Oleh: (alm) Nurul F Huda
Episode surat Asy Syu’ara’ ayat 41 sampai dengan 51 alias Penyihir
Fir’aun. Sebuah episode keimanan yang di ayat 46 sampai 51 mampu
menggedor dada dan membuat mata terkembang air. Sebuah proses keimanan
revolusioner yang sungguh luar biasa! Benar-benar jauh dari jangkauan
keimanan yang bisa saya bayangkan.
41. Maka tatkala Ahli-ahli sihir datang, merekapun bertanya kepada
Fir'aun: "Apakah Kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika Kami
adalah orang-orang yang menang?"
42. Fir'aun menjawab: "Ya, kalau demikian, Sesungguhnya kamu sekalian
benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)".
43. Berkatalah Musa kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan".
44. Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan
berkata: "Demi kekuasaan Fir'aun, Sesungguhnya Kami benar-benar akan
menang".
45. Kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya Maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.
46. Maka tersungkurlah Ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah),
47. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
48. (yaitu) Tuhan Musa dan Harun".
49. Fir'aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum
aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya Dia benar-benar pemimpinmu yang
mengajarkan sihir kepadamu Maka kamu nanti pasti benar-benar akan
mengetahui (akibat perbuatanmu); Sesungguhnya aku akan memotong tanganmu
dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya".
50. Mereka berkata: "tidak ada kemudharatan (bagi kami); Sesungguhnya Kami akan kembali kepada Tuhan Kami,
51. Sesungguhnya Kami Amat menginginkan bahwa Tuhan Kami akan mengampuni
kesalahan Kami, karena Kami adalah orang-orang yang pertama-tama
beriman".
Bagaimana tidak luar biasa? Yang beriman ini adalah para
penyihir. Saat itu di Mesir, penyihir memiliki kedudukan yang strategis.
Kerajaan Mesir boleh dikatakan dikendalikan oleh penyihir, hidup di
dunia sihir, masyarakat menjadikan sihir sebagai referensi. Maka,
apalagi yang hendak dicari para penyihir? Reputasi, jelas. Kedudukan
sosial, pasti. Uang, otomatis. Maka, ketika mereka akhirnya memilih
keimanan, ini tebusan yang mahal (dalam ukuran dunia). Mereka harus siap
kehilangan segala-galanya.
Tengoklah, bagaimana Allah membekali RasulNya apa yang sesuai dengan
ukuran-ukuran manusia top saat itu. Nabi Musa diberi mukjizat tongkat
dan tangan yang bercahaya setelah dimasukkan ke dalam jubah, karena
memang saat itu, negeri yang dituju, manusia paling diakui, ilmu paling
dicari, adalah sihir. Simak komentar Fir’aun setelah menyaksikan
mukjizat tersebut, “Sesungguhnya dia (Musa), pasti seorang penyihir yang
pandai!” (ayat 34).
Maka, atas usul para pemukanya, Fir’aun pun mengumumkan ke khalayak
ramai agar berkumpul menyaksikan “perang sihir” antara Musa dan para
penyihir pilihan. Karena ini tanding kelas wahid, saya bayangkan,
Fir’aun dan pemukanya melakukan uji kelayakan yang ketat terhadap para
penyihir. Iya, dong. Ini menyangkut eksistensi seorang Fir’aun, manusia
paling sombong yang berani mengatakan “Ana robbukumul a’la” (Sayalah
tuhan yang paling tinggi). Masak, tuhan kalah dengan “pelarian” yang
membawa tongkat dan tangan bercahaya? Jadi, Fir’aun mempertaruhkan
banyak hal di sini.
Kita akan masuk pada ayat-ayat yang menggetarkan itu (41 sd 45). Para
penyihir tersebut datang dengan karakter penyihir. Apa yang mereka
katakan kepada Fir’aun? Mereka bicara tentang imbalan yang besar
(materi, uang, kekayaan). Apa jawab Fir’aun? Jelas, mereka dijanjikan
imbalan besar bahkan lebih dari itu, mereka dijanjikan kedudukan yang
dekat dengan Fir’aun. Ha, apalagi yang lebih menggiurkan? Kekayaan dan
kedudukan akan menarik kesenangan-kesenangan yang lain (perempuan,
makanan-minuman, kemegahan penampilan, dll).
Di sini kita lihat, bagaimana pola pikir para penyihir. Ya, duniawi
sekali. Merasa akan mendapatkan imbalan besar dan yakin dengan
kemampuannya (maklum, sudah bertahun-tahun menjadi penyihir, terbaik di
Mesir, yang dihadapi “pemuda kemarin sore”), mereka pun dengan pede
mengatakan, “Demi kekuasaan Fir’aun, pasti kamilah yang akan menang”.
Perang tanding pun dimulai dengan adu “bikin” ular.
Inilah bagian yang paling menakjubkan, menggetarkan, membuat saya sudah
tidak bisa lagi mengira-kira, apalah jenis keimanan saya ini. Jauuuuuuuh
dibanding para penyihir tersebut, yakni ayat 41 sd 51. Melihat ular
Nabi Musa, para penyihir langsung menyungkur, beriman, dan berani
menentang ancaman Fir’aun!
Entah, berapa menit (jam?) adu ular itu, namun perubahan dari titik
hitam penyihir (penyihir pastilah “menyembah” setan, kalau diruqyah,
jin-jin di tubuhnya sudah menjadi kerajaan), belum sekalipun mendengar
dakwah tentang Tuhan, selain tuhan Fir’aun, hidup sebagai manusia yang
kuat eksistensinya dari sisi apa pun, bisa seketika langsung beriman!
LANGSUNG! Apalagi proses keimanan yang lebih revolusioner dari ini?
Berubah seketika!
Resiko yang dihadapi? Bukan hanya kehilangan apa yang dimiliki, apa yang
dijanjikan, namun ancaman mematikan yang mengerikan. Mengerikan!
(“….pasti akan kupotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, akan
kusalib kamu semuanya!”). Dipotong tangan dan kaki. Padahal, di
pangkal-pangkal bagian tubuh itulah ada pembuluh arteri yang jika
tertusuk saja darah segar akan segera menyembur. Sakit? Bunuh diri yang
paling menyakitkan adalah dengan memotong nadi. Darah mengucur, tubuh
lemas, baru kemudian mati kehabisan darah. Ini, dipotong tangan dan
kaki. Fir’aun benar-benar paham anatomi dan mutilasi. Disalib. Rasanya,
hukuman gantung masih lebih manusiawi daripada penyaliban. Yang
diancamkan Fir’aun bukan sekedar hukuman, namun psi war, perang
psikologis, teror, penyiksaan. Mati pelan-pelan.
Jawaban para penyihir sungguh mengharukan, “Tidak ada yang kami takutkan
karena kami akan kembali pada Tuhan kami (mati=bertemu Tuhan).” Lalu,
ayat berikutnya lebih mengharu-biru, “Sesungguhnya kami SANGAT
menginginkan sekiranya Tuhan kami MENGAMPUNI kesalahan kami karena kami
menjadi YANG PERTAMA-TAMA beriman.” Kesadaran akan kesalahan di masa
lalu, harapan yang besar akan masa depan (akhirat) karena pilihan yang
memang penuh pengorbanan. Yang patut diingat, perang tanding ini
dilakukan di hadapan khalayak. Maka, bisa dibayangkan betapa malunya
Fir’aun. Di sisi lain, secara tidak langsung para penyihir telah
meninggalkan “kader-kader” orang beriman kemudian.
Mengapa para penyihir itu beriman?
Al Fahmu. Kefahaman. Ilmu.
Mereka tahu apa itu sihir berikut segala produk dan “pembuatannya”.
Maka, saat mereka menyaksikan ular besar Nabi Musa, mereka langsung
paham, bahwa yang ada dihadapan mereka BUKAN SIHIR. Mereka sadar, mereka
tidak akan menang. Ini kekuatan yang lain. Kefahaman dan kesadaran yang
membawa ketundukan dan keimanan luar biasa. Keimanan yang harus ditebus
dengan semua yang dimiliki, termasuk nyawa.***
sumber:pkspiyungan.org