Tampilkan postingan dengan label CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CINTA. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 17, 2014

Cerita Haru, Relawan Santika PKS Menolong Ibu Melahirkan 1 Hari Pasca Meletusnya Kelud

Pagi itu Selasa, 19 Pebruari 2014 Posko PKS Kabupaten Kediri mendapat kabar dari seorang warga, bahwa ada seorang ibu (Yayuk Purwanti) warga Dusun Kampung Baru Desa Kepung yang pasca melahirkan belum mendapatkan perawatan medis karena ada bencana erupsi gunung Kelud.

Dengan cepat tanggap Santika (Barisan Wanita Keadilan) segera merespon panggilan ini. Tidak tanggung-tanggung dua bidan yang merupakan anggota khusus Santika diterjunkan untuk melaksanakan misi ini.

Sebelum menuju lokasi Tim Santika menyiapkan kebutuhan untuk si Ibu dan bayinya, seperti obat-obatan, selimut, pampers untuk bayi dan ibu pasca melahirkan, dan kebutuhan lainnya. Ibu ini merupakan salah satu korban erupsi Kelud. Bayi putri lahir dengan berat 3 Kg dan panjang 51 cm, tepat satu hari setelah meletusnya gunung Kelud.

Sungguh tragis setelah peristiwa itu menyebabkan si Ibu dan bayinya tidak mendapat perawatan yang layak. Saat ini mereka ditampung di rumah salah satu warga Desa Jambu Kecamatan Jambu Kabupaten Kediri..

Kedatangan Tim Relawan Santika merupakan sebuah kejutan bagi si Ibu, karena tidak menyangka akan kedatangan tersebut. Apalagi setelah tahu bahwa Tim tersebut adalah Bidan dari Tim Relawan PKS. Suasana haru menyelimuti mereka karena menurut pengakuan mereka disekitar rumah tersebut ada Bidan Desa, namun tidak bisa menolong karena kendala erupsi Kelud.

Selain merawat Bayi tersebut, Santika juga melakukan perawatan kepada sang Ibu. Tim Relawan juga memberikan bingkisan kepada ibu tersebut, terlebih sang ibu tersebut telah terpisah dari sang suami di penampungan pengungsi ditempat lain dan tidak memegang uang sepeser pun, namun ada yang peduli dengan diri mereka.




*Seperti diceritakan oleh Tio (salah satu Tim Relawan PKS)

Read more »

Jumat, Februari 14, 2014

Gunung Kelud Meletus, PKS se-Jawa Timur Bagikan Masker

Erupsi Gunung Kelud yang terjadi Kamis (13/2) malam mengakibatkan hujan abu vulkanik yang hampir merata di seluruh daerah di Provinsi Jawa Timur. Menyikapi hal itu, kader-kader PKS membagikan masker untuk pengguna jalan.

Pemadangan kader PKS bagi-bagi masker tampak di sejumlah daerah seperti di Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Bojonegoro, Ngawi, dan Nganjuk.

Menurut Dhian Satriya, kepanduan DPW PKS Jawa Timur, kader-kader PKS di hampir seluruh kabupaten dan kota dengan sigap turun ke jalan membantu masyarakat membagikan masker. Selain membagikan masker di daerah-daerah, kader PKS sudah menyiapkan posko di Kediri dan Blitar untuk korban erupsi Kelud.



sumber: bersamadakwah.com
Read more »

Senin, Februari 10, 2014

Ada Cinta di Bulan Februari

Kata cinta akan semakin nyaring di telinga para manusia, pemuda khususnya, pada bulan Februari. Mengapa demikian? Karena di bulan tersebut terdapat hari kasih sayang yang biasa disebut hari valentine. Di sinilah penjerumusan awal yang sengaja dibuat Barat untuk mendegradasi moral bangsa-bangsa yang bermoral.
Hari Valentine tidak lepas dari sejarah kelam sepasang muda mudi yang memadu kasih hingga berujung pada kematian salah seorang kaisar yang rela membela pasangan yang tidak sah itu, karena pasangan muda mudi itu ternyata masih mempunyai hubungan darah. Dari sedikit cuplikan sejarah di atas saja sudah tidak jelas. Memang banyak perbedaan sejarah mengenai hari valentine. Tapi tetap saja tidak jelas dari mana sumbernya.
Apakah kita sebagai generasi (pemuda) yang intelek, akan tetap menuruti kegiatan-kegiatan kuno tersebut? Sudah tidak zamannya lagi mempertahankan budaya-budaya kuno yang itu tidak membawa manfaat sama sekali. Sekarang zamannya sudah modern dan canggih, sudah saatnya kita meninggalkan budaya “hari kasih sayang”. Bukankah kita bisa setiap saat berkasih sayang kepada sesama saudara kita dan juga keluarga?
Kasih sayang sering disalahartikan oleh kebanyakan kaum muda. Hal ini tidak lain karena perspektif manusia yang salah mengartikan hari kasih sayang. Hari kasih sayang diartikan sebagai hari untuk bercinta, hari untuk bercumbu, hari untuk memberikan seluruh raga kepada sang kekasih, meskipun belum ada ikatan suci yaitu pernikahan.
Perspektif ini cenderung terjadi dan dialami oleh para pemuda. Yang mengartikan hari kasih sayang sebagai hari untuk “bercinta”. Padahal kasih sayang merupakan ikatan batin yang mempersatukan antara manusia satu dengan manusia lainnya. Dengan rasa kasih sayang seseorang rela berkorban untuk orang yang dikasihinya.
Ilustrasi. (Foto: nayzak.deviantart.com)
Ilustrasi. (Foto: nayzak.deviantart.com)
Seorang ibu rela berkorban untuk anak-anaknya, seorang ayah rela berkorban untuk istri dan anak-anaknya, seorang anak rela berkorban untuk kehormatan keluarganya. Inilah esensi sebenarnya dari kasih sayang. Namun yang terjadi justru sebaliknya, seorang anak rela mengorbankan kehormatan diri dan keluarganya demi melampiaskan nafsu birahinya.
Ketika menjelang hari valentine, mungkin banyak para remaja yang sudah membuat perencanaan, akan ke mana, bersama siapa, berapa lama dan apa yang dibawa. Ketika hari valentine tiba, mereka meninggalkan orang tua mereka dengan pacar-pacar mereka, pergi ke tempat wisata atau sekadar pergi ke hotel-hotel kelas melati. Parahnya lagi, hotel pun sudah siap memfasilitasi perbuatan-perbuatan mesum mereka dengan menyediakan stok kondom yang mencukupi.
Padahal Allah sudah melarang kita untuk sekadar mendekati zina, apalagi sampai berzina. Semoga kita mendapat perlindungan Allah SWT dari hal-hal negatif mengenai kasih sayang tersebut. Aamiin.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Israa’, 17: 32)
M Bagus Setiawan

Tentang M Bagus Setiawan

Saat ini aktif sebagai pengurus daerah KAMMI Jember sebagai staf HUMAS. Kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universirsitas Jember. sangat tertarik dengan dunia membaca dan menulis. [Profil Selengkapnya]

Sumber: http://www.dakwatuna.com/
Read more »

Sabtu, Februari 08, 2014

Rindu, Cinta, dan Kamu

Rindu,
Semacam gumpalan buih yang melaut luas,
mencair dan membasahi setiap relung di hati.
Semerbak menggetarkan syaraf,
mengisyaratkan pesan sederhana untuk bersua…
Rindu,
Membawa pesan selembut embun yang tak butuh warna untuk menjadikan pagi mencintainya
Mencipta hangat selaksa fajar di setiap terbitnya.
Rindu,
Semesra senja yang menjadikan malam begitu sabar menanti kedatangannya
Dan adalah rindu,
Yang menjadikan semua beban ini meringan,
dan pundak menguat. Menjelma meneguhkan hati yang sempat terkoyak…
Olehmu. Cinta.
Dan karenamu, Cinta…
Aku yang dulu beku kini menghangat hebat
Membersamai tumbuh dan berkembangnya rasa yang ku tanam sendiri, dan akulah yang akan bertanggung jawab atas perasaan yang kuharap bisa dihalalkan, nanti.
Kupahat lembut di pintu hati,
Kubayangkan seseorang yang masuk adalah kamu seorang diri.
Tidak masalah sesiapanya kamu nanti,
Tapi bagaimana aku menujumu, itu jauh lebih berarti.
Kemudian aku membawamu masuk perlahan, ke sini. Di altar sanubariku
Ale Ikhwan Jumali

Tentang Ale Ikhwan Jumali

Mahasiswa tingkat akhir Universitas Gadjah Mada yang selalu berkeinginan untuk memberikan kontribusi besar bagi agama. Suka tantangan dan wirausaha. Hampir separuh dari masa akademiknya Sejak SMA dilewati sebagai marbot masjid. [Profil Selengkapnya]
Read more »

Rabu, Februari 05, 2014

Cinta Tidak Harus dengan Kata Oleh Cahyadi Takariawan

Tentu kita semua sudah sering mendengar, membaca dan menikmatu puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono. Mungkin karena Sapardi Djoko Damono laki-laki, maka lahirlah puisi cinta yang indah ini. Isinya, sangat laki-laki. Jika seorang perempuan membuat puisi cinta, tidak akan seperti ini isinya. Saya menghafal puisi ini dengan baik.
Mari kita cermati dengan seksama, karya sang pujangga ini.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang membuatanya terbakar
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang membuatnya tiada
Indah sekali kalimat puisinya, dan saya tidak pernah bosan membaca dan mengucapkannya.
Puisi Cinta Suami
Puisi ini sangat laki-laki. Secara umum, laki-laki kurang bisa mengekspresikan bunga-bunga cinta di hatinya. Ia tak pandai mengungkapkan dengan mesra kepada istrinya. Bahkan banyak lelaki yang tidak mampu mengungkapkan kata “rindu, kangen, sayang, cinta”, dan lain sebagainya kepada istri yang sangat dicinta. Ada beban yang sangat berat untuk mengekspresikan cinta dengan kata-kata.
Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”. Laki-laki itu sering merasa “tidak sempat”. Padahal perempuan sangat menunggu kata dan isyarat tadi. Sayang, lelaki “tak sempat”, maka tak ada kata dan isyarat. Ia hanya punya cinta sederhana.
Walau sederhana, namun ia adalah cinta. Semestinyalah istri menerima dengan bahagia, bahkan merayakan bersama dengan penuh kesyukuran jiwa.
Di sisi lain, secara umum perempuan sangat ingin mendapatkan kata-kata mesra dari suaminya. Ia tahu suami mencintainya, namun ia ingin kepastian dari mulut suami sendiri. Bukan hanya membaca isyarat, apalagi jika isyarat itu tidak sempat disampaikan. Ia sangat senang mendapat rayuan, pujian dan kata-kata mesra dari suami. Sayang, suami “tidak sempat” melakukannya. Padahal istri sangat mengharapkannya.
Puisi Rahmah, Bukan Mawaddah
Sering kita mendengar istilah sakinah, mawaddah dan rahmah. Kata sakinah merujuk kepada kondisi keluarga yang tenang, tenteram, nyaman, dan damai. Di atas kondisi sakinah itu, muncullah dua perasaan lainnya, yaitu mawaddah dan rahmah. Kata mawaddah menunjukkan perasaan cinta, kasih dan sayang yang menggelora, menggebu-gebu, dan bercorak sangat fisik. Biasanya terjadi pada anak muda atau pengantin baru.
Sedangkan kata rahmah menunjukkan perasaan cinta, kasih dan sayang yang “sederhana”, tidak menggebu-gebu dan tidak lagi bercorak fisik. Biasanya terjadi pada pasangan yang sudah dewasa atau bahkan tua. Jika pasangan sudah melewati duapuluh tahun usia pernikahan, maka akan dominan corak rahmah daripada mawaddah. Cinta yang sudah tidak berada dalam batas-batas sebab yang bercorak fisik.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, jelas menunjukkan suasana rahmah tersebut. Tidak bercorak fisik dan menggebu, namun sudah menunjukkan kedewasaan cinta dan hubungan. Untuk perbandingan, cinta mawaddah yang bercorak sangat fisik dan menggebu itu seperti ungkapan berikut:
Aku ingin menggenggam erat tanganmu.
Aku ingin memeluk erat tubuhmu.
Aku ingin mencumbumu.
Aku ingin mencium bibirmu.
Aku ingin melumat, mengkulum, meremas….
Kalimat di atas menunjukkan adanya suasana cinta yang menggelora. Biasa terjadi pada anak muda, atau pada pasangan pengantin baru.
Jaman dulu (jadul) ada lagu sangat kondang dari Vina Panduwinata, judulnya saja “Cium Pipiku”. Melihat judul dan isi syairnya, memang ini anak muda pacaran. Orang sedang pacaran, suasananya sama dengan pengantin baru. Bercorak sangat fisik. Berikut cuplikannya :
“Pegang tanganku, pegang pegang tanganku / Rayulah daku, rayu rayulah daku / Bila kau sayang padaku / Katakan sayang…
Peluk diriku, peluk peluk diriku / Cium pipiku, cium cium pipiku / Bila kau cinta padaku / Katakan cinta….”
Saya cuplikkan lagu jadul ini, karena saya tidak ngerti lagu-lagu yang sekarang…:) Mencuplik lagu, tentu sesuai zamannya. Lagu Vina tersebut menggambarkan sebuah asmara yang menggelora dari sepasang kekasih, sebagaimana pada pengantin baru pada umumnya.
Nah, semakin lama usia pernikahan, akan mereda dengan sendirinya corak fisik tersebut. Hubungan semakin dewasa, usia semakin menua, maka corak rahmah menjadi ciri dari kehidupan keluarga yang sudah tidak lagi bisa dikatakan muda. “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, adalah keinginan yang sederhana. Lahir dari hubungan yang sudah dewasa.
Menikmati puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono di atas, mengingatkan suami dan istri bahwa ungkapan cinta tidak selalu harus menggebu-gebu. Ungkapan cinta bahkan tidak harus dengan kata-kata, bahkan isyarat. Cinta bisa dirasakan, walau “tidak sempat” mengucapkan kata-kata dan menyampaikan isyarat.
Selamat menikmati cinta.

sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Read more »

Senin, Februari 03, 2014

Demi Melayani Warga, Kader PKS Solok Menembus Daerah Terisolir

Hari libur adalah hari bekerja bagi kader PKS. Ketika di beberapa daerah kader dan simpatisan PKS berjibaku menangani banjir dan musibah gunung berapi, PKS kabupaten Solok juga tak mau ketinggalan dengan menerjunkan kader-kader terbaiknya menembus Nagari Rankiang Luluih, salah satu daerah paling terisolir di Kabupaten Solok pada hari Jum’at, 31 Januari 2014. Tepatnya di jorong Kapujan, Nagari (desa) Rangkiang Luluih, Kecamatan Tigo Lurah Kabupaten Solok.

Jalan tanah yang terjal dan licin  membuat perjalanan sangat mendebarkan, jarak sekitar 60 km dari ibu kota kabupaten memakan waktu sekitar 3 jam. Medan yang sulit ini mengakibatkan salah satu mobil yang ikut dalam rombongan ibu-ibu hampir terbalik. 

Kehadiran rombonngan PKS Kabupaten Solok disambut gembira oleh masyarakat Kapujan yang menunggu dengan antusias di lokasi acara. Agenda diwali dengan acara temu tokoh masyarakat setempat yang dihadiri oleh wali nagari dan ninik mamak Nagari Rangking Luluih. H. mochlasin, S.Si , anggota DPRD propinsi Sumatera Barat dari Fraksi PKS yang ikut serta dalam rombongan langsung diminta menjadi khatib jum’at di masjid satu-satunya di daerah tersebut.

Setelah shalat Jum’at aksi dilanjutkan berupa pengobatan gratis dan penyuluhan kesehatan kepada seratusan warga. Sudirman, tokoh masyarakat setempat sangat mengapresiasi kedatangan PKS.





*by Hendra Nafsosianto
Ketua DPC PKS Lembang jaya, Kab. Solok

sumber: pkspiyungan.org
Read more »

Sosok Rahmat Ibnu Sina Caleg PKS Untuk DPRD Purbalingga Dapil 1, Relawan Kesehatan dari Tanjungmuli

Mendengar nama Ibnu Sina mungkin kita akan teringat seorang ilmuwan, dokter, dan filsuf Islam ternama di dunia kesehatan. Begitu juga di Desa Tanjungmuli Kecamatan Karangmoncol. Rahmat Ibnu Sina, namanya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat miskin atau pegawai rumah sakit di Purbalingga maupun Purwokerto. Dia kerap membawa orang sakit dan membantu mengurus proses perawatan di rumah sakit sampai sembuh. Dia tidak dibayar dalam membantu orang sakit itu karena hal itu merupakan panggilan hatinya.

Oleh. PUTUT JOKO UTOMO
Pada pertengahan 2007, berbekal uang Rp 24 Ribu, Rahmat Ibnu Sina membawa istrinya yang sakit berobat ke rumah sakit. Ia bingung harus berbuat apa saat itu. Biaya rumah sakit yang mahal tidak bisa dibayar dengan uang yang ia bawa. Pikiran pusing, bingung berbaur menjadi satu.

Dari pengalaman pribadinya itu, Rahmat Ibnu Sina tersentuh hatinya. Ia cukup memahami bagaimana pusingnya orang miskin saat sakit. Tak hanya persoalan biaya. Kebingungan administrasi juga menjadi persoalan bagi warga pedesaan saat mengakses pelayanan rumah sakit.

Karena itu, dia memilih menjadi pekerja sosial, mengurus orang sakit yang berada di desanya. "Bukan hanya Desa Tanjungmuli, tapi seringkali dari kecamatan Karanganyar, Kertanegara atau lainnya juga minta diantarkan saya," tuturnya.

Ia menceritakan, saat mengurus istrinya yang sakit, dirinya bingung karena tidak memiliki uang. Dia disarankan untuk mengurus surat-surat di desa dan surat lainnya. Dari mengurus surat-surat untuk biaya kesehatan itu, ternyata biaya kesehatan bisa gratis atau dengan biaya murah. Mula dari situlah ia berjanji untuk menolong orang lain yang membutuhkannya.

Ketererbatasan pengetahuan tentang proses administrasi dalam mengurusi surat dan biaya terkadang membuat ketakutan tersendiri bagi orang miskin dimasyarakat. Sehingga, banyak masyarakat membiarkan penyakitnya bersarang ditubuhnya karena takut dengan biaya rumah sakit. Hal ini menurutnya, menjadi jurang pemisah antara masyarakat dan dunia kesehatan.

 "Seperti saya dulu punya masalah tapi tidak menceritakan kepada orangtua atau teman, sehingga hanya saya yang tahu. Dan hal itu tidak membantu menyelesaikan masalah,” imbuh pemuda 34 tahun itu.

Bukan perkara mudah menjadi pekerja sosial. Selain harus siaga 24 jam, ia juga harus siap bila dipanggil oleh masyarakat. Pasalnya, bukan hanya masyarakat di wilayah Tanjungmuli saja yang memanggil dirinya. Masyarakat luar desa juga sering meminta bantuannya.

Tidak ada biaya yang harus dikeluarkan untuk jasanya. Hanya, seikhlasnya saja dari pasien yang ia urus. Namun, sebagian besar masyarakat yang sakit adalah masyarakat menengah ke bawah sehingga ucapan terimakasih dari mereka yang dibantu dirasa sudah cukup.

“Rejeki itu Allah yang ngatur, hidup itu bukan bagaimana menjadi kaya namun bagaimana untuk berguna bagi masyarakat,” imbuhnya.

 Melihat keseriusan dan ketekunannya, Pemerintah Desa Tanjungmuli memberikan amanah pada Rahmat Ibnu Sina untuk mengelola sebuah Mobil Pelayanan Masyarakat (MPM) Desa Tanjungmuli. Mobil MPM ini bisa digunakan untuk melayani masyarakat desa Tanjungmuli yang sakit.

Kepala Desa Tanjungmuli Joko Pranoto mengatakan, keseriusan Rahmat Ibnu Sina dan kejadian meninggalnya dua orang ibu hamil beberapa tahun lalu membuat pemer ntah desa berpikir untuk memfasilitasi masyarakat yang sakit agar bisa tertangani dengan cepat. “Wilayah Tanjungmuli sangat luas yang punya mobil juga belum tentu bisa cepat menolong. Sedangkan orang sakit harus cepat  ditolong, apalagi ibu yang mau melahirkan,” tuturnya.(*)

BIO DATA :
Nama : RAHMAT IBNU SINA
Caleg PKS DPRD Kab. Dapil Purbalingga 1 (Karangmoncol, Karanganyar, Kertanegara, dan Rembang)
No. Urut : 6
Tempat/Tgl Lahir: Purbalingga, 27-07-1979
Alamat: Tunjungmuli RT. 004 RW. 02, Kec. Karangmoncol, Kab. Purbalingga
No. Hp : 082326799945
Visi dan Misi: Peduli Sosial dalam pelayanan kesehatan, siap memperjuangkan anak putus sekolah, merehabilitasi rumah tidak layak huni untuk masyarakat miskin.

Sumber : Radar Banyumas
Read more »

Kamis, Januari 30, 2014

"Perahu Karet Penuh Cinta" | Romansa Relawan PKS Banjir Jakarta

by Ummu Nashifa

12 Januari 2014, seminggu yg lalu merupakan hari milad suamiku yg 32 tahun. Hari itu sebenarnya harus lebih berbeda dari biasanya. Biasanya sebagai istri sudah menyiapkan ucapan berupa doa dan sebungkus kejutan walau berupa kado kecil.

Namun ada yang berbeda di hari itu. 12 Januari itu merupakan hari Ahad, dan sejak bada subuh, saya sudah sibuk menemani suami untuk menyiapkan perlengkapan untuk mengadakan pelayanan kesehatan secara rutin di pasar Green Garden, Rorotan, Jakarta Utara.

Walau kami sekarang berdomisili di kelurahan lain, dikarenakan letak sekolah anak yang cukup jauh jika ditempuh dari Rorotan, namun suami tetap mengemban amanah sebagai ketua PKS DPRa Rorotan dengan penuh semangat.

Maklum saja, perhelatan akbar bagi negeri ini sebentar lagi akan tiba. Bukan karena sekedar dipilih, kami mengadakan pelkes (pelayanan kesehatan) itu secara rutin. Namun agenda pelkes merupakan agenda wajib untuk terus terjun ditengah masyarakat sebagai bukti kami sebuah organisasi politik yang harus memiliki andil nyata ditengah masyarakat.

Iklan di televisi bagi partai kami yang minim biaya tentu bukan hal yang mudah. Kami pikir daripada hanya beriklan memberikan janji indah semata, terjun ke tengah masyarakat secara rutin lebih efektif untuk mengenalkan program dan lebih dekat secara psikologis masyarakat dengan PKS beserta kadernya. Biarlah kerja kerja kami ini, menjadi usaha dan bukti kami untuk mensyiarkan bahwa masih ada sekumpulan anak muda yang memiliki sebegitu banyak harapan untuk masa depan yang lebih baik untuk Indonesia yang dicintainya.

Kembali soal ultah suamiku ini. Sungguh hari itu menjadi hari yang sedikit membuatku malu, karena sejak membantu suami menyiapkan perlengkapan pelayanan kesehatan, hingga tiba di lokasi dan lantas segera sibuk menerima pendaftaran dari masyarakat yang ingin menerima pelayanan dari kami, saya masih saja tidak teringat bahwa hari itu suamiku sedang menunggu ucapan doa special dari istri yang dicintainya, cie..cie..geer sendirian.

Hingga waktu terus berlalu hingga pelayanan kesehatan akan segera selesai, kemudian tanpa malu-malu atau mungkin sudah sangat geregetan menunggu ucapan dari istrinya tidak datang jua tiba-tiba suamiku itu bertanya dengan wajah polos diantara kader PKS lain yang sedang sibuk bekerja.

Ummi, inget nggak ini hari apa?? Kata suamiku senyum-senyum..

Dengan entengnya langsung kujawab, ini hari ahad.

Hari ini, tanggal berapa yaa? Kata suamiku lagi.

Dengan mengingat-ingat tanggal sambil berfikir..tanggal berapa ya ini? Oh iya tanggal 12 kataku ringan.

(Maklum sejak menyandang gelar ibu rumah tangga full alias tidak bekerja, sepertinya tanggalan menjadi tidak akrab ditelingaku..he..he..maklum deh emak-emak sibuk, dengan urusanrumah tangga)

Trus ini bulan berapa yaa? Katanya lagi coba mengingatkan.

Ya jelas bulan januari, kata ku lagi.

Emang kenapa sih, abi?? Kok nanya2 tanggal dan bulan. Tapi sekilas kemudian segera saya berfikir..masya Allah, astaghfirullah langsung saja muka ku merah malu karena segera saya ingat kalau hari ini merupakan hari ultah suami tercintaku tersebut.

Ya Allah, barakallahu fii ummurik yaa suamiku..semoga Allah memberkahi sisa usiamu, dan semoga kebaikan yang terus hadir dalam dirimu dan sebuncah cinta karena Allah terus hadir menyelusup untukku seperti selama ini.

Kontan saja, riuhan tawa dari kader PKS yang hadir karena tahu ketua dpra mereka hari itu tepat berulangtahun, dan mungkin tertawa geli karena istrinya kok bisa lupa yaa.

Memang sih bagi kami, hari lahir bukan sesuatu yang dirayakan khusus. Namun hari itu biasanya menjadi lebih penting untuk memberikan sedikit perhatian yang berbeda dari biasanya kepada pasangan dan mengucap doa tulus di hari lahir tersebut agar kami bisa banyak-banyak bersyukur atas waktu yang dilewati atau capaian dunia yang telah diraih. Selain wujud syukur, tentu sebagai pengingat juga akan amalan apa yang sudah kami perbuat, dan hal2 apa saja yang harus kami perbaiki sebagai manusia kedepannya.

***

Seminggu telah berlalu, hari ini 19 Januari, hari ahad tepat 1minggu dari hari milad suamiku, sebuah perahu karet penuh cinta kupersembahkan untuk beliau.



Bukan tanpa alasan, saya memberikan hadiah tersebut. Hadiah itu kuberikan untuk membuatnya semakin semangat untuk terus mengemban amanah di DPRa kami, di Rorotan. Apalagi kondisi akhir-akhir ini akan cuaca yang tidak menentu dan banjir yang kerap hadir di wilayah kami.

Semoga perahu karet penuh cinta itu akan bermanfaat untuk suamiku, dan orang-orang yang akan kelak merasakan manfaatnya. Diantara para kader PKS relawan banjir, walau sedikit terlambat, saya coba sedikit memberikan kebahagiaan bagi suami tercinta.

Selain sebuah perahu karet, kebersamaanku di hari ini menemaninya bersama kader PKS lain untuk terjun membantu warga "kami" di kampung Sepat, Rorotan, Jakarta Utara semoga bisa menjadi tanda maaf atas khilaf istrinya ini. Maafkan umi yaa abi.... Semoga milad dan kadonya tetap berkesan walau diantara korban banjir dan terlambat seminggu.

Selamat milad suamiku, teruslah bersemangat dalam amanah, semoga hadiah kecilku ini bisa menjadi sedikit bukti bahwa diriku insya Allah akan setia menemani dalam kondisi suka maupun duka. Bersama kita tunaikan janji di awal pernikahan kita untuk senantiasa setia dalam bingkai dakwah.

With love, Ummu Nashifa
sumber: pkspiyungan.org
Read more »

Kamis, Januari 16, 2014

Mengurung Rindu (Cerpen)


Saya percaya semuanya akan terlatih
Seperti dirimu dulu, yang terlatih memenjarakan asa
Maka, perjuangan ini, pasti membuatmu mahir mengurung rindu
Murni pandangi lagi kertas itu. Sebuah kertas putih seukuran KTP. Di sisinya ada bekas sobekan. Sangat kentara kalau kertas itu diambil dengan tergesa atau…terpaksa. Belum lagi tulisannya yang pudar karena terkena air. Entah air apa. Terlalu banyak air yang dilihatnya ketika sebuah tangan menyodorkan kertas mungil itu. Air becek yang membasahi sandalnya, air hujan yang jatuh dari balik payungnya bahkan air mata yang turut berderai. Tangan itupun, tak luput dari air hujan yang turun begitu deras kala itu. Meski si empunya kertas berusaha melindungi kertas tersebut.
Dan kali ini, de javu. Perasaan itu kembali hadir. Kertas yang sama juga menemani. Meski tak seputih dulu. Bukan. Bukan dulu. Bagi Murni kata “dulu” terdengar sangat lama. Maka, bukan kosakata itu yang tepat untuk penggambaran kondisinya. Baginya, tiga tahun itu bukan dulu atau lalu. Tapi, baru. Ya…baru tiga tahun. Tepatnya dua tahun tiga ratus enam puluh hari.
Ah…benarkah sudah selama itu? Lalu, mengapa hingga kini rasanya ia belum begitu mahir…mengurung rindu? Untuk orang tuanya yang wafat tiga tahun lalu, ia memang sudah sangat mahir. Sebab, merengkuh mereka memang sudah tidak mungkin lagi. Maka, mengurung rindu dalam doa menjadi pemenang secara aklamasi. Tak ada pilihan lain. Kalaupun ada, itu hanya sampai pada berziarah ke kubur saja.
Tapi mengurung rindu selama dua tahun tiga ratus enam puluh hari hingga waktu yang tak dapat dipastikan, apakah ia bisa? Bukankah kata yang tepat untuk kondisinya adalah “dulu” bukan “baru”?  Kenapa tak dibuangnya saja tulisan itu? Kenapa harus disimpannya sedemikian lama? Toh tulisan itu ditujukan padanya agar ia bisa tegar hidup sebatang kara. Tanpa orang tua. Artinya, dia sudah mahir.
Pemberi tulisan itu bukan bermaksud agar Murni bisa kompromi dengan kondisinya, enam hari kemudian. Menghilang tanpa kabar. Ah ya…sebelumnya memang ada kabar. Pemberi tulisan itu, seorang pria berrahang kukuh, pergi dalam tugasnya untuk memberi kabar ke dua anaknya bahwa ia sudah menemukan ibu untuk dua putranya di Luwuk sana. Sebuah ibukota Kabupaten yang berjarak sekitar 600 km dari kota Palu, ibu kota Sulawesi Tengah.
Murni masih bisa mengingat dengan jelas, warna merah wajahnya dari pantulan cermin. Berkali-kali ia meyakinkan diri di depan cerminnya, bahwa ia akan melakukan proses ta’aruf. Dipandanginya lagi wajahnya, sungguh bukan wajah yang biasa-biasa saja. Lesung pipit dan bibirnya yang merah bak bunga mawar meski tanpa polesan lipstick menjadi anugerah alami yang dibawanya sejak lama. Walau guratan di sekitar matanya tak bisa berbohong akan kuantitas umurnya yang tak lagi sedikit. Umurnya sudah empat puluh tahun ketika itu.
Murni sadar bagi mayoritas orang di sekelilingnya menganggap, jika ia menikah maka itu suatu keajaiban. Tapi, sedikit pun ia tak pernah pesimis. Meski guratan keriput mulai menguras sedikit demi sedikit kulit kencangnya. Hingga Seorang sahabatnya mengabarkan berita bahagia yang hampir tak dapat ia percaya. Seorang pria berniat melakukan prosesi ta’aruf dengannya. Umurnya memang dua tahun lebih muda darinya dan pria itu seorang…duda.
“Suamiku bertemu dengannya di masjid Al-firdaus. Teman lamanya waktu masih tinggal di Palu. Sekarang so kerja di Banggai. Begitu tahu status resminya dan bincang panjang lebar, suamiku langsung menawarkan anti. Alhamdulillah, ukh. Dia bersedia. Insya Allah hanif, ukh. Info hanifnya bukan hanya dari suamiku loh tapi dari kakaknya juga. Kakaknya, akhwat kok eh ummahat maksudnya. Mau ya, ukh?”
Itu kalimat panjang yang masih bisa diingat oleh Murni dalam percakapan melalui telepon. Meski awalnya tak menyangka, ia akhirnya memberanikan diri untuk melakukan proses awal menuju pernikahan itu. Istikharah yang ia lakukan, meyakinkan dirinya untuk mencobanya. Ta’aruf.
Namun, musibah itu datang tanpa permisi. Orang tuanya kecelakaan. Keduanya meninggal. Tepat di hari ia akan melakukan proses perkenalan itu. Bumi seakan runtuh menindih tubuhnya. Ia serasa tak berpijak di bumi lagi. Tapi, bukan Murni namanya jika ia tak mampu menguasai diri. Disapu-sapunya dadanya sambil beristigfar berkali-kali.
Semua panganan yang sudah sedia di ruang tamu, disingkirkan ke dapur. Karpet panjang di gelar. Rumah yang telah ia bersihkan bahkan diberinya pengharum ruangan rupanya bukan untuk prosesi mendebarkan itu. Namun, untuk menyambut jenazah kedua orang tuanya. Keluarga pemuda yang sudah kadung bertamupun akhirnya menjadi pelayat yang membantu menyingkirkan sofa di dalam rumah.
Murni tak lagi peduli dengan rombongan pertama yang datang ke rumahnya. Rombongan yang akan melakukan proses ta’aruf itu. Ia hanya peduli pada jenazah dua orang yang sangat dikasihinya dan terbaring kaku di ruang tamu. Ia tak meraung. Tak juga mengiba. Ia dapat menahan semua itu. Apalagi agamanya melarang hal seperti itu. Namun, air matanya tak dapat ditahannya. Ia menangis dalam diam.
Hingga di pemakaman yang diguyur hujan itu, sebuah tangan tiba-tiba muncul dari balik payungnya. Bukan menyodorkannya tisu untuk melap air matanya. Tapi sebuah kertas. Kertas yang dijaganya hingga kini. Ia memang tak pernah melihat wajah orang yang memberikannya kertas. Fokus matanya enggan beralih pada tanah makam yang basah. Meski belakangan ia tahu, bahwa tangan itu milik pria yang berniat melakukan proses ta’aruf dengannya.
Tapi, mengapa ia tak kunjung kembali? Mengapa ia begitu sulit dihubungi? Bahkan keluarganya menjadi sulit pula dihubungi?
Murni menghela nafasnya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Dia masih juga cantik. Untuk perempuan seumurannya, ia bahkan luar biasa cantik. Tapi, gurat keriput itu…oh, dia tak muda lagi. Dibuangnya kertas itu pada tong sampah di sebelah meja riasnya.
Kamu harus realistis, Murni. Katanya membatin.
Matanya beralih pada ponselnya. Sebuah pesan masuk dari sahabatnya. Tak langsung dibacanya. Ia memilih membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Setelahnya, ia baru membaca pesan pendek itu.
"Aslkm,ukh. Tamrin baru saja menghubungi suamiku. Dia menanyakanmu dan…menanyakan ada tidaknya peluang untuk melakukan proses ta’aruf yang tertunda lama itu.Ternyata dia sakit. Hampir setahun ia bolak balik rumah sakit.dan setahun belakangan ia tengah mengumpulkan uang untuk menikah.Saat ini dia di Makassar.Ah, pokoknya lengkapnya nanti kuceritakan pas kita bertemu.Bagaimana?"
Murni membelalakkan matanya. Tamrin? Tamrin yang itukah? Pria itukah? Sakit? Makassar? Peluang? Ta’aruf? Beragam tanya mencuat seketika di kepalanya. Ya Rabb…kejutan apa ini? Pria itu sakit selama ini. Dan sudah berada semakin jauh dari tempatnya tinggal di Palu. Berada di Makassar, selama dua tahun tiga ratus enam puluh hari. Tanpa kabar karena sakit dan kini bertanya tentang peluang.
Cepat Murni bangkit dan menyongsong tempat sampahnya. Kertas itu masih ada. Kertas yang baru beberapa menit lalu dicampakkannya. Dipandanginya lama kertas tersebut. Kertas itu, peluang yang baru disudahinya. Dan pesan pendek sahabatnya membuatnya memungut kembali peluang itu.
Tapi, benarkah sikapnya?
Murni meraih telepon genggamnya. Perlahan namun pasti, ia mengetik sebuah pesan untuk sahabatnya.
"Ya. Saya ke rumahmu. Skrg"

Sumber: dakwatuna.com
Read more »

Minggu, Desember 01, 2013

DOWNLOAD! Novel PAKISTAN PALING GREGET (BAHASA INDONESIA)

Novel ini sangat menarik untuk dibaca, ketika membaca novel ini akan ditemukan hal yang berbeda dengan novel karya Indonesia. Cerita cinta berbingkai agama namun tidak kaku sehingga dibaca siapa aja sangat enak. Mungkin pada awalnya biasa saja namun disitulah uniknya novel ini yang akan mengiring pada bagian yang sangat menarik. Silakan Download disini.
Read more »

Rabu, September 25, 2013

PUI5I CINTA YANG MENDUNIA






Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada 5e5eorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati 5e5eorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta 5emu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada 5e5eorang yang merindui 5yahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan 5yurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta keka5ih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di 5epertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada keka5ih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manu5ia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui keka5ih-Mu, jangan biarkan aku melampaui bata5 5ehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah ber5atu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela 5yariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(A5-5yahid 5ayyid Qutb)
Read more »

 

KAJIAN KEISLAMAN DAN KEILMUAN

BERITA DAERAH

POLITIK