Tampilkan postingan dengan label KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, Februari 13, 2014

Syahadat, Kalimat Terakhir Fajrul Falaakh Sebelum Meninggal

Mantan Ketua PBNU, ahli hukum tata negara HM Fajrul Falaakh meninggal dunia, Rabu (12/2) sekitar pukul 12.30 WIB, dalam perjalanan ke Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta Barat. Fajrul meninggal setelah tak sadarkan diri karena penyakit jantung.

Adik perempuan almarhum, Safira Machrusah kepada wartawan di kediaman almarhum di Jalan Dato Tonggara, Kramatjati, Jakarta Timur, mengatakan sebelumnya tak seorang pun tahu anggota Komisi Hukum Nasional itu memeriksa kesehatannya di Singapura pekan lalu.

“Almarhum katanya merasa sesak dada, lalu periksa ke Singapura. Ternyata diberitahu kalau ada penyakit Jantung. Sebelumnya tidak ada yang tahu,” ujarnya seperti dikutip Tribunnews.

Dari pemeriksaan dokter di Singapura diketahui tiga dari empat katup di jantung Fajrul sudah bermasalah. Namun setelah menjalani perawatan Fajrul diperbolehkan pulang hari Senin (10/2) lalu.

“Pihak rumah sakit tidak bilang kalau almarhum sudah tidak bisa diselamatkan. Cuma bilang hati-hati saja,” terangnya.

Setelahnya kondisi Fadjrul pun membaik. Bahkan hingga Rabu pagi di kediamannya ia masih bisa naik tangga dan berinteraksi seperti orang normal. Menjelang siang, tiba-tiba Fajrul tak sadarkan diri.

“Oleh supir pribadi, oleh Ustadznya, dan pembantunya almarhum diantar ke rumah sakit. Di perjalanan sempat muntah, lalu sempat mengucap syahadat, lalu meninggal,” katanya. [AM/Tribunnews/bersamadakwah]
Read more »

Sabtu, Februari 08, 2014

Subhanallah, Karena Jujur, Norman Saleh Dapat Rumah Senilai Rp 1,9 M

Norman Saleh, pemilik jasa kebersihan XS-Trash, mendapatkan hadiah rumah senilai Rp 1,9 M karena kejujurannya.

Keberuntungan itu bermula saat ia mendapat panggilan untuk membersihkan sebuah rumah di Dearborn Heights , Michigan. Norman Saleh berpikir itu hanyalah pekerjaan rutinnya, lansir news.com.au, Jum’at (7/2).

Saleh menemukan sebuah kotak penyimpanan uang berisi $ 100.000 atau senilai Rp 1,2 milyar saat membersihkan rumah itu, lapor MyFox Detroit .

Setelah menghitung dan menyadari betapa besarnya nilai uang itu, Saleh menelepon sang pemilik dengan menggunakan ponselnya.

"Saya pikir ini bukan hal yang remeh untuk membersihkan rumah, dan mengembalikan uang itu kepada pemiliknya," ujar Saleh .

“Pemilik rumah itu histeris saat aku meneleponnya dan dia bilang sedang berada di lokasi yang berjarak sekitar 20 menit dari rumahnya”

Ketika mereka bertemu dan Saleh mengembalikan apa yang ditemukannya, sang pemilik rumah memberikan tip $ 15 ribu (sekitar Rp 180 juta). Ia juga memberikan kunci rumahnya yang bernilai $ 160 ribu (sekitar Rp 1,92 M).

Tak menyangka dapat hadiah sebanyak itu, Saleh mengatakan bahwa dirinya tidak mengharap imbalan apapun.

"Saya dibesarkan untuk jujur dan mengembalikan semua barang yang bukan milikku,” kata Saleh .

Namun sang pemilik rumah bersikeras memberikan tip dan rumah tersebut. "Anda telah menyelamatkan saya," ujarnya pada Saleh. [IK/News.com.au/bersamadakwah.com]
Read more »

Kamis, Januari 30, 2014

Jangan Melihat dari Sudut Pandang Sempit

Suatu hari seorang suami pulang kerja, dan mendapati tiga orang anaknya sedang berada di depan rumah. Semuanya bermain lumpur, dan masih memakai pakaian tidur. Berarti semenjak bangun tidur, mereka belum mandi dan belum berganti pakaian.

Sang suami melangkah menuju rumah lebih jauh.. Ternyata .. kotak-kotak bekas bungkus makanan tersebar di mana-mana. Kertas-kertas bungkus dan plastik bertebaran tidak karuan. Dan … pintu rumah bagian depan dalam keadaan terbuka.

Begitu ia melewati pintu dan memasuki rumah... MasyaAllah … kacau … berantakan … ada lampu yang pecah. Ada sajadah yang tertempel dengan permen karet di dinding. Televisi dalam keadaan on dan dengan volume maksimal. Boneka bertebaran di mana-mana. Pakaian acak-acakan tidak karuan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Dapur? Ooooh tempat cucian piring penuh dengan piring kotor. Sisa makanan pagi masih ada di atas meja makan. Pintu kulkas terbuka lebar.

Sang suami mencoba melihat lantai atas. Ia langkahi boneka-boneka yang berserakan itu. Ia injak-injak pula pakaian yang berserakan tersebut. Maksudnya adalah hendak mendapatkan istrinya, siapa tahu ada masalah serius dengannya.

Pertama sekali ia dikejutkan oleh air yang meluber dari kamar mandi. Semua handuk berada di atas lantai dan basah kuyup. Sabun telah berubah menjadi buih. Tisu kamar mandi sudah tidak karuan rupa, bentuk dan tempatnya. Cermin penuh dengan coretan-coretan odol..

dan....

Begitu ia melompat ke kamar tidur...

Ia dapati istrinya sedang tiduran sambil membaca komik!!!

?????#$%!###

Melihat kepanikan sang suami, sang istri memandang kepadanya dengan tersenyum.

Dengan penuh keheranan sang suami bertanya: “Apa yang terjadi hari ini wahai istriku?!!”

Sekali lagi sang istri tersenyum seraya berkata:

“Bukankah setiap kali pulang kerja engkau bertanya dengan penuh ketidakpuasan: 'Apa sih yang kamu kerjakan hari ini wahai istriku' bukankah begitu wahai suamiku tersayang?!”

"Betul," jawab sang suami.

“Baik,” kata sang istri, "hari ini, aku tidak melakukan apa yang biasanya aku lakukan”.


***

Pesan yang ingin disampaikan adalah:

1. Penting sekali semua orang memahami, betapa orang lain mati-matian dalam menyelesaikan pekerjaannya, dan betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang lain itu agar kehidupan ini tetap berimbang, berimbang antara MENGAMBIL dan MEMBERI, TAKE and GIVE.

2. Dan … agar tidak ada yang mengira bahwa dialah satu-satunya orang yang habis-habisan dalam berkorban, menanggung derita, menghadapi kesulitan dan masalah serta menyelesaikannya.

3. Dan … jangan dikira bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang tampaknya santai, diam, dan enak-enakan … jangan dikira bahwa mereka tidak mempunyai andil apa-apa.

4. Oleh karena itu, HARGAILAH JERIH PAYAH DAN KIPRAH ORANG LAIN dan JANGAN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG YANG SEMPIT.


*by Musyafa AR
sumber: pkspiyungan,org
Read more »

Selasa, Januari 21, 2014

Kisah Suami Setia yang 15 Tahun Pura-pura Buta


Maraknya perceraian yang dilakukan di negeri ini, utamanya oleh para artis, merupakan salah satu tanda mulai sirnanya kesetiaan kepada pasangannya. Memang, dalam berumah tangga, akan banyak ditemukan ketidaksesuaian pada diri pasangan kita. Namun, hal itu adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan gemilang. Dan, di sinilah terletak alasan mengapa menikah diganjari dengan pahala yang berlimpah.

Sejatinya, ketika diri mau sedikit menurunkan ego, apa yang dialami atau dilakukan oleh pasangan kita, adalah representasi dari diri kita yang sebenarnya. Jikapun misalnya kita adalah orang baik, kemudian pasangan kita adalah orang yang belum baik, maka yang harus dilakukan adalah saling melengkapi, saling memperbaiki diri, dan seterusnya. Bukan saling menyalahkan, apalagi menghakimi bahwa diri adalah yang paling benar.

Dalam tahap ini, jika semua kita bisa mengusahakan kesetiaan kepada pasangan kita, insya Allah perceraian tidak akan terjadi, minimal bisa dikurangi angkanya. Tentu, kesetiaan yang dimaksud bukanlah kesetiaan buta. Tetapi kesetiaan dalam ketaatan kepada Allah, Rasulullah dan aturan-aturanNya.

Dalam sebuah kisah diterangkan, ada seorang suami yang telah menuju medan peperangan. Perang, dalam hal ini adalah cara terbaik untuk mempertahankan diri. Dengan gagah, pria ini menuju medan laga. Demi kebebasan, pria-pria itu rela meninggalkan keluarganya.

Di tengah kecamuknya perang, ketika pasukan tambahan baru saja tiba, tersiarlah kabar bahwa istri dari pria tersebut tengah mengalami penyakit kulit. Wajah cantiknya, berangsur berubah menjadi jelek, dan menjijikkan. Kabar yang diterimanya ini adalah pukulan telak. Lantas, atas ijin komandan pasukan, pria ini memutuskan untuk pulang dan menemani istrinya, hingga sembuh.

Sebelum pulang, entah karena apa, pria ini mengalami kebutaan. Bagi istri, ini adalah duka di atas duka. Ketika dirinya terjangkiti penyakit dan kecantikannya hancur lebur, sang pangeran hatinya pulang membawa kebutaan. Namun, ia berupaya tegar sehingga keduanya bisa saling bersinergi dalam melanjutkan biduk rumah tangga.

Hingga akhirnya, terhitunglah masa lima belas tahun, keduanya bersama dalam suka dan duka. Bagi suami, bukanlah hal yang mudah, menghabiskan seratus delapan puluh bulan bersama wanita yang menderita penyakit kulit. Alih-alih menikmati kecantikan istrinya, ia justru dihinggapi rasa takut jika sewaktu-waktu tertular. Bagi istri, mendampingi suami yang buta juga bukan hal yang mudah. Karena ia harus selalu ada di sampingnya dalam memenuhi kebutuhan pasangannya itu.

Tapi kisah, selalu memiliki hikmah. Hingga kemudian, setelah lima belas tahun, sang istri sembuh dari penyakit kulit. Wajahnya kembali seperti semula, cantik mempesona. Kerabat dan sahabatpun saling mendatangi keluarga itu untuk mengucapkan selamat. Hingga akhirnya, satu diantara sahabat sang pria dalam peperangan itu melontarkan pertanyaan yang tak biasa, “Hai, Fulan. Aku heran. Mengapa kau mendadak buta ketika mendengar kabar bahwa istrimu sakit kulit yang mengakibatkan kecantikannya hilang?”

Seluruh hadirin saling memandang untuk kemudian memusatkan perhatian pada Fulan yang diberi pertanyaan. Secara mengejutkan, pria ini bertutur, “Ketauhilah wahai istri dan sahabatku sekalian. Bahwa selama ini, sejatinya, aku hanya berpura-pura buta.” Sontak saja, semua yang hadir kaget dan saling berbisik antara satu dengan yang lainnya. Dalam jenak, ia melanjutkan, “Ini kulakukan, agar istriku tak terluka hatinya. Ketika ia mengetahui bahwa aku mengalami kebutaan, maka dia tidak akan canggung berhadapan denganku. Karena, dalam pikirannya, aku tidak bisa melihat rusaknya wajah yang dahulu cantik. Jadi, sebenarnya aku melihat. Sandiwara ini kulakukan demi keberlangsungan rumah tangga yang telah kami bangun sebelumnya.”

Demikianlah, kisah cinta selalu membuat decak kagum pembacanya. Hanya orang-orang hebat yang bisa menganyam kesabaran sepanjang lima belas tahun. Hanya orang-orang pilihan yang mempu menutup dan menambal aib pasangannya selama itu. Dan untuk perjuangan tersebut, Allah akan berikan ganjaran yang besar. Bukankah Dia sudah berkali-kali menyebutkan bahwa Dia bersama orang yang sabar?

Maka, diantara hikmah yang pantas kita catat, bersabarlah terhadap kekurangan pasangan. Karena bisa jadi, dalam kekurangan itu, terdapat kebaikan yang sangat banyak. Semoga Allah jadikan untuk kita pasangan yang setia. Yang selaras dalam taqwa, sejalan dalam iman dan seirama dalam setiap kebaikan.

Karena, ketika diri sebaik Muhammad, maka Dia pasti akan menjadikan wanita seperti Khadijah sebagai pasangan kita. Jika kemudian suami kita seperti Fir’aun, maka yang harus dilakukan adalah menjadi ‘Asiyah yang sabar sehingga berganjar surga. Atau, jika istri kita selayak istri Nuh, maka upayakanlah agar diri menjadi Nuh, yang tak pernah berhenti dalam mendakwahi. Baik kepada istri, anak ataupun masyarakat secara umum. Mari, memilih setia. []


Sumber: http://www.bersamadakwah.com
Read more »

Kamis, Januari 16, 2014

Mengurung Rindu (Cerpen)


Saya percaya semuanya akan terlatih
Seperti dirimu dulu, yang terlatih memenjarakan asa
Maka, perjuangan ini, pasti membuatmu mahir mengurung rindu
Murni pandangi lagi kertas itu. Sebuah kertas putih seukuran KTP. Di sisinya ada bekas sobekan. Sangat kentara kalau kertas itu diambil dengan tergesa atau…terpaksa. Belum lagi tulisannya yang pudar karena terkena air. Entah air apa. Terlalu banyak air yang dilihatnya ketika sebuah tangan menyodorkan kertas mungil itu. Air becek yang membasahi sandalnya, air hujan yang jatuh dari balik payungnya bahkan air mata yang turut berderai. Tangan itupun, tak luput dari air hujan yang turun begitu deras kala itu. Meski si empunya kertas berusaha melindungi kertas tersebut.
Dan kali ini, de javu. Perasaan itu kembali hadir. Kertas yang sama juga menemani. Meski tak seputih dulu. Bukan. Bukan dulu. Bagi Murni kata “dulu” terdengar sangat lama. Maka, bukan kosakata itu yang tepat untuk penggambaran kondisinya. Baginya, tiga tahun itu bukan dulu atau lalu. Tapi, baru. Ya…baru tiga tahun. Tepatnya dua tahun tiga ratus enam puluh hari.
Ah…benarkah sudah selama itu? Lalu, mengapa hingga kini rasanya ia belum begitu mahir…mengurung rindu? Untuk orang tuanya yang wafat tiga tahun lalu, ia memang sudah sangat mahir. Sebab, merengkuh mereka memang sudah tidak mungkin lagi. Maka, mengurung rindu dalam doa menjadi pemenang secara aklamasi. Tak ada pilihan lain. Kalaupun ada, itu hanya sampai pada berziarah ke kubur saja.
Tapi mengurung rindu selama dua tahun tiga ratus enam puluh hari hingga waktu yang tak dapat dipastikan, apakah ia bisa? Bukankah kata yang tepat untuk kondisinya adalah “dulu” bukan “baru”?  Kenapa tak dibuangnya saja tulisan itu? Kenapa harus disimpannya sedemikian lama? Toh tulisan itu ditujukan padanya agar ia bisa tegar hidup sebatang kara. Tanpa orang tua. Artinya, dia sudah mahir.
Pemberi tulisan itu bukan bermaksud agar Murni bisa kompromi dengan kondisinya, enam hari kemudian. Menghilang tanpa kabar. Ah ya…sebelumnya memang ada kabar. Pemberi tulisan itu, seorang pria berrahang kukuh, pergi dalam tugasnya untuk memberi kabar ke dua anaknya bahwa ia sudah menemukan ibu untuk dua putranya di Luwuk sana. Sebuah ibukota Kabupaten yang berjarak sekitar 600 km dari kota Palu, ibu kota Sulawesi Tengah.
Murni masih bisa mengingat dengan jelas, warna merah wajahnya dari pantulan cermin. Berkali-kali ia meyakinkan diri di depan cerminnya, bahwa ia akan melakukan proses ta’aruf. Dipandanginya lagi wajahnya, sungguh bukan wajah yang biasa-biasa saja. Lesung pipit dan bibirnya yang merah bak bunga mawar meski tanpa polesan lipstick menjadi anugerah alami yang dibawanya sejak lama. Walau guratan di sekitar matanya tak bisa berbohong akan kuantitas umurnya yang tak lagi sedikit. Umurnya sudah empat puluh tahun ketika itu.
Murni sadar bagi mayoritas orang di sekelilingnya menganggap, jika ia menikah maka itu suatu keajaiban. Tapi, sedikit pun ia tak pernah pesimis. Meski guratan keriput mulai menguras sedikit demi sedikit kulit kencangnya. Hingga Seorang sahabatnya mengabarkan berita bahagia yang hampir tak dapat ia percaya. Seorang pria berniat melakukan prosesi ta’aruf dengannya. Umurnya memang dua tahun lebih muda darinya dan pria itu seorang…duda.
“Suamiku bertemu dengannya di masjid Al-firdaus. Teman lamanya waktu masih tinggal di Palu. Sekarang so kerja di Banggai. Begitu tahu status resminya dan bincang panjang lebar, suamiku langsung menawarkan anti. Alhamdulillah, ukh. Dia bersedia. Insya Allah hanif, ukh. Info hanifnya bukan hanya dari suamiku loh tapi dari kakaknya juga. Kakaknya, akhwat kok eh ummahat maksudnya. Mau ya, ukh?”
Itu kalimat panjang yang masih bisa diingat oleh Murni dalam percakapan melalui telepon. Meski awalnya tak menyangka, ia akhirnya memberanikan diri untuk melakukan proses awal menuju pernikahan itu. Istikharah yang ia lakukan, meyakinkan dirinya untuk mencobanya. Ta’aruf.
Namun, musibah itu datang tanpa permisi. Orang tuanya kecelakaan. Keduanya meninggal. Tepat di hari ia akan melakukan proses perkenalan itu. Bumi seakan runtuh menindih tubuhnya. Ia serasa tak berpijak di bumi lagi. Tapi, bukan Murni namanya jika ia tak mampu menguasai diri. Disapu-sapunya dadanya sambil beristigfar berkali-kali.
Semua panganan yang sudah sedia di ruang tamu, disingkirkan ke dapur. Karpet panjang di gelar. Rumah yang telah ia bersihkan bahkan diberinya pengharum ruangan rupanya bukan untuk prosesi mendebarkan itu. Namun, untuk menyambut jenazah kedua orang tuanya. Keluarga pemuda yang sudah kadung bertamupun akhirnya menjadi pelayat yang membantu menyingkirkan sofa di dalam rumah.
Murni tak lagi peduli dengan rombongan pertama yang datang ke rumahnya. Rombongan yang akan melakukan proses ta’aruf itu. Ia hanya peduli pada jenazah dua orang yang sangat dikasihinya dan terbaring kaku di ruang tamu. Ia tak meraung. Tak juga mengiba. Ia dapat menahan semua itu. Apalagi agamanya melarang hal seperti itu. Namun, air matanya tak dapat ditahannya. Ia menangis dalam diam.
Hingga di pemakaman yang diguyur hujan itu, sebuah tangan tiba-tiba muncul dari balik payungnya. Bukan menyodorkannya tisu untuk melap air matanya. Tapi sebuah kertas. Kertas yang dijaganya hingga kini. Ia memang tak pernah melihat wajah orang yang memberikannya kertas. Fokus matanya enggan beralih pada tanah makam yang basah. Meski belakangan ia tahu, bahwa tangan itu milik pria yang berniat melakukan proses ta’aruf dengannya.
Tapi, mengapa ia tak kunjung kembali? Mengapa ia begitu sulit dihubungi? Bahkan keluarganya menjadi sulit pula dihubungi?
Murni menghela nafasnya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Dia masih juga cantik. Untuk perempuan seumurannya, ia bahkan luar biasa cantik. Tapi, gurat keriput itu…oh, dia tak muda lagi. Dibuangnya kertas itu pada tong sampah di sebelah meja riasnya.
Kamu harus realistis, Murni. Katanya membatin.
Matanya beralih pada ponselnya. Sebuah pesan masuk dari sahabatnya. Tak langsung dibacanya. Ia memilih membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Setelahnya, ia baru membaca pesan pendek itu.
"Aslkm,ukh. Tamrin baru saja menghubungi suamiku. Dia menanyakanmu dan…menanyakan ada tidaknya peluang untuk melakukan proses ta’aruf yang tertunda lama itu.Ternyata dia sakit. Hampir setahun ia bolak balik rumah sakit.dan setahun belakangan ia tengah mengumpulkan uang untuk menikah.Saat ini dia di Makassar.Ah, pokoknya lengkapnya nanti kuceritakan pas kita bertemu.Bagaimana?"
Murni membelalakkan matanya. Tamrin? Tamrin yang itukah? Pria itukah? Sakit? Makassar? Peluang? Ta’aruf? Beragam tanya mencuat seketika di kepalanya. Ya Rabb…kejutan apa ini? Pria itu sakit selama ini. Dan sudah berada semakin jauh dari tempatnya tinggal di Palu. Berada di Makassar, selama dua tahun tiga ratus enam puluh hari. Tanpa kabar karena sakit dan kini bertanya tentang peluang.
Cepat Murni bangkit dan menyongsong tempat sampahnya. Kertas itu masih ada. Kertas yang baru beberapa menit lalu dicampakkannya. Dipandanginya lama kertas tersebut. Kertas itu, peluang yang baru disudahinya. Dan pesan pendek sahabatnya membuatnya memungut kembali peluang itu.
Tapi, benarkah sikapnya?
Murni meraih telepon genggamnya. Perlahan namun pasti, ia mengetik sebuah pesan untuk sahabatnya.
"Ya. Saya ke rumahmu. Skrg"

Sumber: dakwatuna.com
Read more »

Senin, Oktober 14, 2013

"Tentang Kehidupan" by @ahmadgozali



by @ahmadgozali


1) Hidup itu seperti roti. Berawal dari bagian-bagian kecil yang menyatu dengan baik. Tepung, gula, mentega, telur, ragi, dll.

2) Walaupun diaduk, diputar, diremas, dibanting... Semua itu tak merusaknya, bahkan membuatnya makin menyatu, lembut dan kalis.

3) Hanya setelah bersatu dgn baik, adonan tadi bisa berkembang. Andai tepung terlalu sombong tak mau bersama ragi, ia tentu tetap jadi tepung.

4) Individu yg mau bersatu dlm sebuah tim akan berkembang bersama timnya. Yg individualiatis, akan tetap seperti ia bermula, bukan siapa-siapa.

5) Stlh mengembang, adonan dipotong, dicabik, digiling. Tapi justru proses inilah yg mbentuk individu roti jadi long john, kadet ato lainnya.

6) Ujian tak berhenti sampai di situ, roti pun selanjutnya digoreng atau dipanggang. Ditempa dengan panas malah membuatnya makin berkembang.

7) Hanya mereka yg selamat dari ujian bantingan, pemotongan dan tempaan panas yg layak dihias dgn topping yg menawan. Yg lain, dibuang.

8) Ada adonan yg tak menyatu dgn baik, gagal berkembang. Ada yg dipotong terlalu besar, tdk matang. Ada juga yg gosong dlm panggangan.

9) Seperti itulah hidup. Ada yg gagal di tahap awal, msh bisa mengulang prosesnya. Tapi yg gagal di ujian akhir, gosong di panggangan, dibuang.

10) Hanya yg sdh lewati ujian akhir terberat dlm panggangan yg dihias dgn cantik & dihargai dgn nilai yg berkali-kali lipat dari nilai bahannya.

11) Jadi kalau merasa sdg diputar2, dipukuli bertubi2, dibanting. Bersabarlah, itu tandanya sdg diproses menjadi lbh lembut sprti adonan roti.

12) Kalau merasa didiamkan, dikucilkan, bahkan seperti ditutup dgn kain basah yg pengap. Itu tandanya sdg dlm proses berkembang, seperti roti.

13) Kalau merasa dipotong, dicabik, digilas... Itu tandanya sedang dibentuk menjadi individu yg unik. Seperti roti yg beraneka macam bentuk.

14) Klo merasa "panas"... Bersabarlah, krn setelah itu akan lbh berkembang lagi & dihiasi dgn topping yg cantik. Nilaimu akan lbh tinggi lagi.

15) Oke, itulah tadi "sarapan roti" pagi ini. Selamat menikmati.... | Silakan dibagi kalau terasa enak :)

*https://twitter.com/ahmadgozali

Read more »

Kamis, Oktober 03, 2013

Meja Telepon Ibu (bag. 2)




 Meja Telepon Ibu (bag. 2)
by: Siti Horiah (*)

Aku lema5 mendengarnya, jadi 5elama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku 5ering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku ter5adar 5elama ini aku memang 5elalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah 5atu-5atunya meja yang ada dirumah kami.
Itulah kondi5i yang 5elama ini aku alami, tak ada yang bi5a aku lakukan banyak ketika itu. 5aat itu kondi5inya aku 5edang duduk dikela5 tiga. Ditengah kondi5i 5eperti ini aku haru5 tetap berjuang untuk bi5a lulu5 5MA. 5etiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tuga5, aku menggunakan meja telepon itu 5ebagai ala5ku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di ata5 meja yang lua5nya lebih kecil dari lua5 buku tuli5ku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diata5 lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia 5elalu menemaniku dimalam hari di5aat 5emua orang terlelap, aku haru5 bangun untuk belajar. 5emua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu di5iang hari untuk belajar.
Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan 5emua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap be5ar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi 5etelah aku lulu5 5MA nanti aku bi5a lang5ung bekerja, dan ibu optimi5 terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku terma5uk murid yang berpre5ta5i di5ekolah.
Tanpa di5adari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu 5elalu aku ber5ihkan 5etiap harinya, walaupun meja itu kecil dan 5empit tapi aku ma5ih ber5yukur bi5a tetap menuli5 diata5 meja. Meja itu adalah 5atu-5atunya tempat aku berbagi raha5ia, tempat aku mengukir 5ebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi 5ak5i kalau aku memiliki 5ebuah mimpi yang 5elama ini aku raha5iakan dari dunia.
Aku punya 5ebuah mimpi yang benar-benar tidak bi5a aku ungkapkan pada 5iapapun. Aku takut kalau mimpiku yang 5atu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi 5elama ini hanya meja kecil ini yang ber5ak5i kalau aku 5ering mengukir 5ebuah nama Univer5ita5 yang aku impikan pada catatan 5ekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada 5iapa pun terma5uk orang tuaku 5endiri adalah duduk di bangku KULIAH.
5ebenarnya 5etiap kali orang tuaku membaha5 tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni 5etelah lulu5 5MA, hati kecilku menangi5 merintih tak terdengar 5iapapun.
“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau ma5uk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bi5a KERJA!” jerit hati kecil ini.
***
5aat-5aat 5eperti ini 5emua teman-temanku 5ibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, 5ebagai 5alah 5atu per5iapan 5ebelum menghadapi 5NMPTN. Bagi 5eorang 5iti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan 5NMPTN 5aja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku 5NMPTN yang harganya 5elangit itu. Untuk makan adik-adiku 5aja 5etiap 5ubhu aku dan ibu ma5ih haru5 keliling pa5ar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya 5ebe5ar tiga ribu rupiah 5aja, itupun hanya cukup untuk ongko5 naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual 5atupun itu berarti aku haru5 berjalan kaki 5ejauh 3 km untuk 5ekolah. Aku tak 5anggup meminta uang 5epe5erpun unutuk membeli buku 5NMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipa5ar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. 5udahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi ba5i 5eorang 5i5wa 5MA kela5 3 5eperti aku ini.
Itulah 5ebabnya aku menyembunyikan mimpi be5ar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pi5au kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menu5uk dan mengiri5 pera5aan kedua orang tuaku. Tak pernah 5ekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pa5ti akan mera5a kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bi5a membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.
***
5ahabatku Ana 5elalu ada untukku, memberika 5upport. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku ter5enyum miri5 5endiri. Aku 5elalu berpikir kenapa aku tidak 5eberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku 5adar aku tidak 5eperti dirinya, aku bukan anak 5iapa-5iapa yang boleh bermimpi 5etinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi 5aja itu 5ulit apa lagi mereali5a5ikannya pada kenyataan. 5e5ulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi 5aja dianalogikan dan di5amakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga mi5kin 5eperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mu5tahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga mi5kin 5eperti kami harga 5ebutir telur naik 5eratu5 rupiah pun 5udah membuat kepala ayahku 5akit.
5aat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang 5ebe5ar 5eratu5 ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan 5ebagai ongko5 pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongko5 yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. 5etelah kuputu5kan 5i5a uang ter5ebut kuberanikan 5aja untuk kubelikan 5ebuah buku 5NMPTN beka5 dipa5ar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan 5i5a uangnya pada ibuku. Aku 5angat 5enang 5ekali 5aat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa 5alahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu 5eperti teman-temanku.
***
“Kamu mau kuliah?” 5ahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.
Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku 5embunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku 5endiri walau dalam doa di 5holatku, mimpi yang hanya ikut mengalir ber5ama air mata 5ebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun 5endiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu 5emua karena buku 5NMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diata5 meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulu5an 5D menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi ter5ebut, ibu takut kalau nantinya aku 5tre55 karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangi5, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku ter5enyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan beru5aha mati-matian agar aku bi5a kuliah. Aku ter5enyum melihat ayah yang bijak berkata 5eperti itu, entahlah aku 5empat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku 5aja.
***

(*) 5iti Horiah maha5i5wa dari Program 5tudi Teknik Nuklir 2012 mendapat penghargaan 5ebagai pemenang pertama dalam Lomba Menuli5 Ki5ah In5piratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara 5eminar Motiva5i Na5ional oleh divi5i keilmuan Kamadik5i dalam rangka meningkatkan motiva5i penerima bea5i5wa Bidik Mi5i. 
Read more »

Kisah Nyata Bidadari Bumi 1. Hubabah Tiflah (bag. 2) Selesai


Hubabah Tiflah (bag. 2) Selesai

5ekila5 kudengar U5tadzah Zainab memperkenalkan aku kepada keluarga itu 5ebelum akhirnya menarik tanganku menemui 5eorang wanita tua yang duduk ber5andar di 5udut ruangan.
Wanita itu 5egera ter5enyum demi menyadari keberadaan kami. Aku perpikir ini pa5ti Hubabah Tiflah yang diceritakan U5tadzah Zainab di rumahnya tadi. U5ianya kutak5ir di ata5 tujuh puluhan. Kulitnya 5awo matang berkeriput.
Dan Ya Allah...
Ternyata beliau buta...
Panta5 5aja beliau tidak ikut berdiri ber5ama yang lain kala menyambut kedatangan kami. Aku perhatikan raut wajahnya. Dia tidak cantik namun dari wajahnya terlihat 5eolah tak pernah ada beban atau ma5alah apapun dalam hidupnya. Beliau betul-betul 5eperti bayi. Aku diam dihadapannya, tak tahu haru5 berbuat apa. Hingga tatkala kulihat U5tadzah Zinab duduk dan mencium tangan wanita itu, akupun cuma mengikuti 5aja di belakangnya. Dan 5ambil kupegang tangannya, aku memperkenalkan diri “Halimah dari Indone5ia” Kataku dengan lahjah10 yang ketara bukan orang arab tentunya.
Dia bala5 memegang erat tanganku lama 5ekali hingga kura5a hangat tangannya menjalari tanganku. Lalu dia meraba-raba wajahku dengan kedua tangannya. Mungkin untuk mempermudah dirinya membayangkan rupaku.
Kemudian diletakkannya tangan kanannya di dadaku, dan lalu ia mendoakanku. Dia teru5 berdoa dan tak henti-hentinya berdoa untukku. 5eolah 5aat itu tak ada yang lebih penting baginya kecuali aku. Perempuan a5ing yang bahkan baru ia kenal beberapa menit yang lalu. Ia ma5ih 5aja berdoa dengan kalimat 5ederhana. Ya, ia berdoa dengan 5atu kalimat 5aja. 5atu kalimat doa yang tak akan pernah kulupa. Apalagi tatkala kemudian diiringinya doa ter5ebut dengan linangan air mata . 5ungguh membuat aku terpana, lema5 tak mampu bahkan untuk mengangkat tanganku mengaminkan doanya...
“5emoga Allah takkan perah tega menyeng5arakanmu, anakku...” Doa itu teru5 di ulangnya berkali-kali dengan cucuran air mata...
Ya Allah, 5ampai kapanpun, dimanapun, jangan pernah tega untuk menyeng5arakan hidupnya”...katanya lagi dan lagi dengan air mata yan membanjiri wajah tuanya. Membuatku tak kua5a membendung luapan airmata dan akupun ikut menangi5 terguguk di lantai itu juga.
“Ya Allah..kabulkan doanya.” Teriakku dalam hati. Jangan tega menyeng5arakan aku 5ekarang, nanti dan 5elamanya, di 5ini dan di 5ana. Di dunia ini maupun hari 5etelahnya.
Tangi5ku tumpah ruah. Kukutuki diri dan do5a-do5a yang cukup membuat Allah murka dan berkemungkinan membuatku 5eng5ara. Aku malu ata5 gunung-gunung do5a yang kutimbun tak habi5-habi5nya.
“Ya Allah, dan maafkanlah aku yang tak mengerti bagaimana berdoa pada-Mu. Maafkan aku yang jika untuk ke5elamatan diriku 5endiri haru5 ada orang lain yang memohonkan dengan linangan air matanya. 5e5uatu yang bahkan tak kuingat pernah kulakukan”
“Dan terima ka5ih Ya Allah...Kau perkenalkan aku pada wanita ini yang berdoa untukku ribuan kali lebih baik dariku.”
“Terima ka5ih untuk air mata ke5ungguhannya yang mungkin tak kudapat dari orang-orang yang mengaku mencintaiku 5ekalipun.”
“Terima ka5ih pula telah Kau bawa aku ke rumah ini. Rumah yang aku yakini di mata malaikat-malaikat-MU lebih indah dari rumah bermarmer mewah namun penghuninya tak pandai men5yukuri nikmat-Mu.”
“Terima ka5ih Ya Allah untuk 5ebuah pelajaran berharga” :
“Doamu
untuk 5e5ama adalah hadiah terindah yang
dapat kau berikan padanya.”

Tarim, Idul Fitri 1999
Diambil DariBuku “Bidadari Bumi, 9 Kisah Wanita Salehah” Karya Halimah Alaydrus.


d  10. Dialek
Read more »

Sabtu, September 28, 2013

Meja Telepon Ibu (Bag.1)


                                                           

Meja Telepon Ibu (bag. 1)
by: Siti Horiah (*)


Di5udut ruang tamu kami, yang lua5nya tidak lebih dari 4m2 itu terletak 5ebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah 5ebuah meja telepon rumah yang 5udah beralih fung5i 5ebagai meja belajarku. Meja itu adalah 5atu-5atunya meja yang ada di rumah kami, meja yang 5ampai 5aat ini ma5ih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan ma5ih tetap berada dirumah kami dengan 5ebuah ala5an yang tak aku ketahui.
Beginilah kondi5i rumah kami 5etelah peri5tiwa kebangkrutan u5aha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga 5ekitar. Ibuku tidak tahu lagi haru5 berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli bera5. Beliau menjual 5atu per5atu barang-barang berharga kami, 5etiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau 5uka, alat-alat dapur 5eperti gela5, piring, panci, di5pen5er, bahkan 5endok dan garpu pun ikut habi5 terjual.
Ayahku tidak dapat berbuat banyak 5etelah peri5tiwa kebangkrutan u5ahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipa5ar tradi5ional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga be5ar kami.
***
5uatu 5iang, aku melihat adikku Rafi menangi5 5ambil menghampiri ibu yang 5edang duduk lema5 menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangi5 terlalu lama.
“ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.
Ibu yang tak bi5a berkata apa-apa lang5ung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun teru5 memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. 5empat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan na5i untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum mema5ak na5i untuk keluarga kami. Dengan ma5ih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang memba5ahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau lang5ung menghapu5nya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak 5adar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangi5.
Kubiarkan ibu dengan ke5ibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lu5uh 5ebanyak lima lembar. Aku terheran-heran ata5 apa yang ibu lakukan. Ibu lang5ung menyuruhku pergi kewarung membeli 5etengah liter bera5, dan 5atu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun lang5ung pergi menuruti perintah ibu.
Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu lang5ung menyuruhku mema5aknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar 5atu telur itu menjadi be5ar dan cukup untuk dimakan oleh kami ber5embilan. Aku menarik napa5 dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menete5 jatuh. Aku tak kuat menahan ini 5emua, bagaimana tidak, 5etiap harinya kami hanya makan 5atu kali 5ehari. Berbagi 5etengah liter na5i untuk 5embilan orang, 5atu butir telur 5aja haru5 dibagi 5embilan, 5ering kamipun membagi 2 bungku5 mie in5tan5 untuk 5embilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah 5aat tiba waktu makan, beliau pergi 5ambil menitip pe5an padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku 5aja.
Ibu 5angat 5ayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami 5emua. 5elagi ayah menjadi kuli dipa5ar, ibu 5elalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat 5edih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami 5emua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan berala5kan ka5ur yang tipi5 5aja.
Hampir 5eluruh barang berharga dirumah kami terpak5a beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang be5arnya tak kurang dari 5epuluh ribu rupiah. Hanya 5atu buah meja telepon yang ibu 5i5akan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja ter5ebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja ter5ebut. 5ampai pada 5aatnya aku tak 5anggup melihat pakaian terbaik ibu haru5 ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangi5 5endiri.
“5elapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah teru5 meja itu.” Ungkapnya 5ambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya 5elama ini, demi 5epiring na5i untuk keenam adikku.
Aku lema5 mendengarnya, jadi 5elama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku 5ering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku ter5adar 5elama ini aku memang 5elalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah 5atu-5atunya meja yang ada dirumah kami.

(*) 5iti Horiah maha5i5wa dari Program 5tudi Teknik Nuklir 2012 mendapat penghargaan 5ebagai pemenang pertama dalam Lomba Menuli5 Ki5ah In5piratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara 5eminar Motiva5i Na5ional oleh divi5i keilmuan Kamadik5i dalam rangka meningkatkan motiva5i penerima bea5i5wa Bidik Mi5i. 
Read more »

 

KAJIAN KEISLAMAN DAN KEILMUAN

BERITA DAERAH

POLITIK