Saya percaya semuanya akan terlatih
Seperti dirimu dulu, yang terlatih memenjarakan asa
Maka, perjuangan ini, pasti membuatmu mahir mengurung rindu
Murni pandangi lagi kertas itu. Sebuah kertas putih seukuran KTP. Di
sisinya ada bekas sobekan. Sangat kentara kalau kertas itu diambil
dengan tergesa atau…terpaksa. Belum lagi tulisannya yang pudar karena
terkena air. Entah air apa. Terlalu banyak air yang dilihatnya ketika
sebuah tangan menyodorkan kertas mungil itu. Air becek yang membasahi
sandalnya, air hujan yang jatuh dari balik payungnya bahkan air mata
yang turut berderai. Tangan itupun, tak luput dari air hujan yang turun
begitu deras kala itu. Meski si empunya kertas berusaha melindungi
kertas tersebut.
Dan kali ini, de javu. Perasaan itu kembali hadir. Kertas yang sama
juga menemani. Meski tak seputih dulu. Bukan. Bukan dulu. Bagi Murni
kata “dulu” terdengar sangat lama. Maka, bukan kosakata itu yang tepat
untuk penggambaran kondisinya. Baginya, tiga tahun itu bukan dulu atau
lalu. Tapi, baru. Ya…baru tiga tahun. Tepatnya dua tahun tiga ratus enam
puluh hari.
Ah…benarkah sudah selama itu? Lalu, mengapa hingga kini rasanya ia
belum begitu mahir…mengurung rindu? Untuk orang tuanya yang wafat tiga
tahun lalu, ia memang sudah sangat mahir. Sebab, merengkuh mereka memang
sudah tidak mungkin lagi. Maka, mengurung rindu dalam doa menjadi
pemenang secara aklamasi. Tak ada pilihan lain. Kalaupun ada, itu hanya
sampai pada berziarah ke kubur saja.
Tapi mengurung rindu selama dua tahun tiga ratus enam puluh hari
hingga waktu yang tak dapat dipastikan, apakah ia bisa? Bukankah kata
yang tepat untuk kondisinya adalah “dulu” bukan “baru”? Kenapa tak
dibuangnya saja tulisan itu? Kenapa harus disimpannya sedemikian lama?
Toh tulisan itu ditujukan padanya agar ia bisa tegar hidup sebatang
kara. Tanpa orang tua. Artinya, dia sudah mahir.
Pemberi tulisan itu bukan bermaksud agar Murni bisa kompromi dengan
kondisinya, enam hari kemudian. Menghilang tanpa kabar. Ah ya…sebelumnya
memang ada kabar. Pemberi tulisan itu, seorang pria berrahang kukuh,
pergi dalam tugasnya untuk memberi kabar ke dua anaknya bahwa ia sudah
menemukan ibu untuk dua putranya di Luwuk sana. Sebuah ibukota Kabupaten
yang berjarak sekitar 600 km dari kota Palu, ibu kota Sulawesi Tengah.
Murni masih bisa mengingat dengan jelas, warna merah wajahnya dari
pantulan cermin. Berkali-kali ia meyakinkan diri di depan cerminnya,
bahwa ia akan melakukan proses ta’aruf. Dipandanginya lagi wajahnya,
sungguh bukan wajah yang biasa-biasa saja. Lesung pipit dan bibirnya
yang merah bak bunga mawar meski tanpa polesan lipstick menjadi anugerah
alami yang dibawanya sejak lama. Walau guratan di sekitar matanya tak
bisa berbohong akan kuantitas umurnya yang tak lagi sedikit. Umurnya
sudah empat puluh tahun ketika itu.
Murni sadar bagi mayoritas orang di sekelilingnya menganggap, jika ia
menikah maka itu suatu keajaiban. Tapi, sedikit pun ia tak pernah
pesimis. Meski guratan keriput mulai menguras sedikit demi sedikit kulit
kencangnya. Hingga Seorang sahabatnya mengabarkan berita bahagia yang
hampir tak dapat ia percaya. Seorang pria berniat melakukan prosesi
ta’aruf dengannya. Umurnya memang dua tahun lebih muda darinya dan pria
itu seorang…duda.
“Suamiku bertemu dengannya di masjid Al-firdaus. Teman lamanya waktu masih tinggal di Palu. Sekarang
so
kerja di Banggai. Begitu tahu status resminya dan bincang panjang
lebar, suamiku langsung menawarkan anti. Alhamdulillah, ukh. Dia
bersedia. Insya Allah hanif, ukh. Info hanifnya bukan hanya dari suamiku
loh tapi dari kakaknya juga. Kakaknya, akhwat kok eh ummahat maksudnya.
Mau ya, ukh?”
Itu kalimat panjang yang masih bisa diingat oleh Murni dalam
percakapan melalui telepon. Meski awalnya tak menyangka, ia akhirnya
memberanikan diri untuk melakukan proses awal menuju pernikahan itu.
Istikharah yang ia lakukan, meyakinkan dirinya untuk mencobanya.
Ta’aruf.
Namun, musibah itu datang tanpa permisi. Orang tuanya kecelakaan.
Keduanya meninggal. Tepat di hari ia akan melakukan proses perkenalan
itu. Bumi seakan runtuh menindih tubuhnya. Ia serasa tak berpijak di
bumi lagi. Tapi, bukan Murni namanya jika ia tak mampu menguasai diri.
Disapu-sapunya dadanya sambil beristigfar berkali-kali.
Semua panganan yang sudah sedia di ruang tamu, disingkirkan ke dapur.
Karpet panjang di gelar. Rumah yang telah ia bersihkan bahkan diberinya
pengharum ruangan rupanya bukan untuk prosesi mendebarkan itu. Namun,
untuk menyambut jenazah kedua orang tuanya. Keluarga pemuda yang sudah
kadung bertamupun akhirnya menjadi pelayat yang membantu menyingkirkan
sofa di dalam rumah.
Murni tak lagi peduli dengan rombongan pertama yang datang ke
rumahnya. Rombongan yang akan melakukan proses ta’aruf itu. Ia hanya
peduli pada jenazah dua orang yang sangat dikasihinya dan terbaring kaku
di ruang tamu. Ia tak meraung. Tak juga mengiba. Ia dapat menahan semua
itu. Apalagi agamanya melarang hal seperti itu. Namun, air matanya tak
dapat ditahannya. Ia menangis dalam diam.
Hingga di pemakaman yang diguyur hujan itu, sebuah tangan tiba-tiba
muncul dari balik payungnya. Bukan menyodorkannya tisu untuk melap air
matanya. Tapi sebuah kertas. Kertas yang dijaganya hingga kini. Ia
memang tak pernah melihat wajah orang yang memberikannya kertas. Fokus
matanya enggan beralih pada tanah makam yang basah. Meski belakangan ia
tahu, bahwa tangan itu milik pria yang berniat melakukan proses ta’aruf
dengannya.
Tapi, mengapa ia tak kunjung kembali? Mengapa ia begitu sulit dihubungi? Bahkan keluarganya menjadi sulit pula dihubungi?
Murni menghela nafasnya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Dia
masih juga cantik. Untuk perempuan seumurannya, ia bahkan luar biasa
cantik. Tapi, gurat keriput itu…oh, dia tak muda lagi. Dibuangnya kertas
itu pada tong sampah di sebelah meja riasnya.
Kamu harus realistis, Murni. Katanya membatin.
Matanya beralih pada ponselnya. Sebuah pesan masuk dari sahabatnya.
Tak langsung dibacanya. Ia memilih membaringkan tubuhnya di tempat
tidurnya. Setelahnya, ia baru membaca pesan pendek itu.
"Aslkm,ukh. Tamrin baru saja menghubungi suamiku. Dia
menanyakanmu dan…menanyakan ada tidaknya peluang untuk melakukan proses
ta’aruf yang tertunda lama itu.Ternyata dia sakit. Hampir setahun ia
bolak balik rumah sakit.dan setahun belakangan ia tengah mengumpulkan
uang untuk menikah.Saat ini dia di Makassar.Ah, pokoknya lengkapnya
nanti kuceritakan pas kita bertemu.Bagaimana?"
Murni membelalakkan matanya. Tamrin? Tamrin yang itukah? Pria itukah?
Sakit? Makassar? Peluang? Ta’aruf? Beragam tanya mencuat seketika di
kepalanya. Ya Rabb…kejutan apa ini? Pria itu sakit selama ini. Dan sudah
berada semakin jauh dari tempatnya tinggal di Palu. Berada di Makassar,
selama dua tahun tiga ratus enam puluh hari. Tanpa kabar karena sakit
dan kini bertanya tentang peluang.
Cepat Murni bangkit dan menyongsong tempat sampahnya. Kertas itu
masih ada. Kertas yang baru beberapa menit lalu dicampakkannya.
Dipandanginya lama kertas tersebut. Kertas itu, peluang yang baru
disudahinya. Dan pesan pendek sahabatnya membuatnya memungut kembali
peluang itu.
Tapi, benarkah sikapnya?
Murni meraih telepon genggamnya. Perlahan namun pasti, ia mengetik sebuah pesan untuk sahabatnya.
"Ya. Saya ke rumahmu. Skrg"
Sumber: dakwatuna.com