Nurokhman ST Tersenyum Bersama Tukang Sayur
Bergaul itu dengan siapa aja, tidak melihat pangkat dan jabatan yang penting bisa menebarkan kebaikan atau mendapat kebaikan, Ibu tukang sayur ini sangat gigih bekerja saya kira bisa diambil hikmahnya.
Karena Kita Teman by Nurokhman ST
Orang yang hebat bukan berarti yang banyak teman kemudian menyia-nyiakan mereka, tetapi yang hebat adalah walau sedikit teman tapi tidak menyia-nyiakan mereka.
Antara Ijazah dan Pengabdian by Nurokhman ST
Bagi kami yang lebih penting bukanlah Ijazah tanpa karya, akan tetapi walau tanpa ijazah tapi banyak karya itu lebih baik,sebagimana yang dicontohkan Jenderal Soedirman.
Rabu, Februari 05, 2014
Cinta Tidak Harus dengan Kata Oleh Cahyadi Takariawan
10.41
Unknown
Tentu kita semua sudah sering mendengar,
membaca dan menikmatu puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono.
Mungkin karena Sapardi Djoko Damono laki-laki, maka lahirlah puisi cinta
yang indah ini. Isinya, sangat laki-laki. Jika seorang perempuan
membuat puisi cinta, tidak akan seperti ini isinya. Saya menghafal puisi
ini dengan baik.
Mari kita cermati dengan seksama, karya sang pujangga ini.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang membuatanya terbakar
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang membuatnya tiada
Indah sekali kalimat puisinya, dan saya tidak pernah bosan membaca dan mengucapkannya.
Puisi Cinta Suami
Puisi ini sangat laki-laki. Secara umum,
laki-laki kurang bisa mengekspresikan bunga-bunga cinta di hatinya. Ia
tak pandai mengungkapkan dengan mesra kepada istrinya. Bahkan banyak
lelaki yang tidak mampu mengungkapkan kata “rindu, kangen, sayang,
cinta”, dan lain sebagainya kepada istri yang sangat dicinta. Ada beban
yang sangat berat untuk mengekspresikan cinta dengan kata-kata.
Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai
“dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak
sempat disampaikan”. Laki-laki itu sering merasa “tidak sempat”. Padahal
perempuan sangat menunggu kata dan isyarat tadi. Sayang, lelaki “tak
sempat”, maka tak ada kata dan isyarat. Ia hanya punya cinta sederhana.
Walau sederhana, namun ia adalah cinta.
Semestinyalah istri menerima dengan bahagia, bahkan merayakan bersama
dengan penuh kesyukuran jiwa.
Di sisi lain, secara umum perempuan sangat
ingin mendapatkan kata-kata mesra dari suaminya. Ia tahu suami
mencintainya, namun ia ingin kepastian dari mulut suami sendiri. Bukan
hanya membaca isyarat, apalagi jika isyarat itu tidak sempat
disampaikan. Ia sangat senang mendapat rayuan, pujian dan kata-kata
mesra dari suami. Sayang, suami “tidak sempat” melakukannya. Padahal
istri sangat mengharapkannya.
Puisi Rahmah, Bukan Mawaddah
Sering kita mendengar istilah sakinah, mawaddah dan rahmah.
Kata sakinah merujuk kepada kondisi keluarga yang tenang, tenteram,
nyaman, dan damai. Di atas kondisi sakinah itu, muncullah dua perasaan
lainnya, yaitu mawaddah dan rahmah. Kata mawaddah menunjukkan perasaan
cinta, kasih dan sayang yang menggelora, menggebu-gebu, dan bercorak
sangat fisik. Biasanya terjadi pada anak muda atau pengantin baru.
Sedangkan kata rahmah menunjukkan perasaan
cinta, kasih dan sayang yang “sederhana”, tidak menggebu-gebu dan tidak
lagi bercorak fisik. Biasanya terjadi pada pasangan yang sudah dewasa
atau bahkan tua. Jika pasangan sudah melewati duapuluh tahun usia
pernikahan, maka akan dominan corak rahmah daripada mawaddah. Cinta yang
sudah tidak berada dalam batas-batas sebab yang bercorak fisik.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”,
jelas menunjukkan suasana rahmah tersebut. Tidak bercorak fisik dan
menggebu, namun sudah menunjukkan kedewasaan cinta dan hubungan. Untuk
perbandingan, cinta mawaddah yang bercorak sangat fisik dan menggebu itu
seperti ungkapan berikut:
Aku ingin menggenggam erat tanganmu.
Aku ingin memeluk erat tubuhmu.
Aku ingin mencumbumu.
Aku ingin mencium bibirmu.
Aku ingin melumat, mengkulum, meremas….
Kalimat di atas menunjukkan adanya suasana
cinta yang menggelora. Biasa terjadi pada anak muda, atau pada pasangan
pengantin baru.
Jaman dulu (jadul) ada lagu sangat kondang
dari Vina Panduwinata, judulnya saja “Cium Pipiku”. Melihat judul dan
isi syairnya, memang ini anak muda pacaran. Orang sedang pacaran,
suasananya sama dengan pengantin baru. Bercorak sangat fisik. Berikut
cuplikannya :
“Pegang tanganku, pegang pegang tanganku / Rayulah daku, rayu rayulah daku / Bila kau sayang padaku / Katakan sayang…
Peluk diriku, peluk peluk diriku / Cium pipiku, cium cium pipiku / Bila kau cinta padaku / Katakan cinta….”
Saya cuplikkan lagu jadul ini, karena saya
tidak ngerti lagu-lagu yang sekarang…:) Mencuplik lagu, tentu sesuai
zamannya. Lagu Vina tersebut menggambarkan sebuah asmara yang menggelora
dari sepasang kekasih, sebagaimana pada pengantin baru pada umumnya.
Nah, semakin lama usia pernikahan, akan
mereda dengan sendirinya corak fisik tersebut. Hubungan semakin dewasa,
usia semakin menua, maka corak rahmah menjadi ciri dari kehidupan
keluarga yang sudah tidak lagi bisa dikatakan muda. “Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana”, adalah keinginan yang sederhana. Lahir
dari hubungan yang sudah dewasa.
Menikmati puisi “Aku Ingin” karya Sapardi
Djoko Damono di atas, mengingatkan suami dan istri bahwa ungkapan cinta
tidak selalu harus menggebu-gebu. Ungkapan cinta bahkan tidak harus
dengan kata-kata, bahkan isyarat. Cinta bisa dirasakan, walau “tidak
sempat” mengucapkan kata-kata dan menyampaikan isyarat.
Selamat menikmati cinta.
sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Senyuman Caleg dan Jeritan Berjuta Pohon Oleh Abanggeutanyo
10.35
Unknown
Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah
menerbitkan peraturan Nomor 21 tahun 2013 tentang pedoman pelaksanaan
kampanye pemilihan umum anggota DPR/ DPRD dan DPD RI. Dengan demikian,
masa kampanye pemilu Calon Legislatif (caleg) resmi berlaku mulai 11
Januari 2014 hingga 5 April 2014.
Selain itu dijuga telah ditetapkan
lokasi dan tempat pemasangan iklan kampanye selayaknya pada ruang
terbuka, pada gedung dan melalui iklan media cetak dan elektronik. Tidak
dilakukan pada gedung pemerintah, sekolah, jalan protokol dan fasilitas
umum.
Kini, hasrat membara para caleg
seolah tak dapat dibendung lagi. Sepertinya para caleg tidak sanggup
bersabar lebih lama lagi. Para caleg ramai-ramai -tanpa komando- masuk dalam kancah “Musim Kampanye” yang resmi berlaku sejak 5 Januari 2014 lalu.
Apa daya, entah terlalu bersemangat
atau karena ikut-ikutan, sejumlah caleg hampir senada dan seirama
menempel atribut kampanye mereka pada sejumlah pohon yang menghiasi
jalan umum. Iklan kampanye sosok caleg ukuran raksasa sampai ukuran
kertas ketikan menghiasi sejumlah pohon di sepanjang jalan di mana-mana
dari desa sampai kota.
Iklan kampanye sosok caleg yang
menempel pada pepohonan sepanjang jalan itu berisi promosi caleg
menawarkan program dan nilai jual kepada calon pemilih atau kepada warga
yang melihatnya.
Ironis dan menyedihkan sekali. Pada sebatang pohon “dihiasi”
oleh sejumlah iklan oleh 4 caleg bahkan lebih. Para caleg saling
bersaing dan mengalahkan calonnya baik dalam daerah pilihan (dapil) yang
sama bahkan dengan caleg dapil lainnya.
Pepohonan pun terlihat makin tak
karuan bentuknya. Di tengah batang pohon dengan radius ketinggian 2
meter menempel sejumlah lembaran atribut caleg. Sementara di daun-daunan
di atasnya seolah tak mampu lagi mengeluarkan daun hijaunya akibat
dipaku disana-sini disekujur lingkaran batangnya.
Para caleg yang menghiasi batang
pohon semua tersenyum, optimis dan percaya diri tak terkira, sementara
lolongan pohon-pohon yang telah “mereka” tempeli itu terasa tak penting
bagi caelg. Pepohonan seolah bukanlah sesuatu yang perlu dijaga
kehidupan dan kelestariannya.
Pepohonan seperti terdiam seribu
bahasa tak kuasa menahan sakitnya dipaku di sana sini. Jeritannya
melolong “kesakitan” siang dan malam berbulan-bulan sampai masa
kampanye caleg itu berakhir hingga 5 April mendatang.
Di sisin lain, banyak terlihat mobil
caleg berseliweran di mana-mana dengan atribut kampanye caleg. Banyak
juga terlihat caleg dalam ukuran baliho dan backdrop ukuran raksasa
menghiasi seantero kota dan komplek perumahan sekitar kita.
Lalu mengapa ditemukan caleg
menempel pepohonan sebagai sasaran pemasangan atribut kampanye, padahal
caleg pastilah orang yang berkecukupan dalam hampir segala bidang
termasuk bidang finasial.
Semoga para caleg yang sukses atau
gagal itu nantinya berkesempatan menata dan menanam kembali berjuta-juta
pohon telah mereka paku di sana sini yang membuat sejumlah pepohonan
tak berdaya itu pasrah menjadi sasaran senyuman mereka.
Sumber : http://posmetrobatam.com/2013/09/satpol-pp-segera-tertibkan-atribut-parpol/#axzz2rc64BYzc
Tidak adakah tempat lainnya yang lebih
tepat memasang atribut kampanye promosi caleg? Padahal dalam ketentuan
KPU telah membatasi tempat yang layak untuk dijadikan sasaran, meski KPU
tidak melarang pepohonan menjadi sasaran pemasangan iklan kampanye.
Salah satu komisioner KPU, akhirnya
menyampaikan pendapatnya tentang fenomena anti penghijauan yang
dilakukan oleh para caleg yang menjadikan pepohonan sebagai sasaran
kampanye, tetapi himbauan tersebut hanyalah pernyataan pribadi saja,
bukan ketetapan KPU. “Apapun alasannya, pohon tidak boleh disentuh
untuk keperluan kampanye,” tegas Hadar Nafis Gumay, beberapa waktu lalu.
Dari sisi efektifitas memaku iklan
di pohon juga diragukan ketepatannya. Dengan ukuran iklan kampanye yang
relatif kecil rasanya tak ada waktu orang yang melintas di sekitar pohon
untuk melirik pada iklan kampnye itu karena memerlukan waktu untuk
berhenti sejenak melihat dan mengenal detail caleg dan sejumlah pesan
pada iklan caleg tersebut.
Semoga pada Pemilu Caleg mendatang,
KPU memberi batasan lebih jelas dalam larangannya, tidak sekadar revisi
merevisi peraturan saja, dari kalimat-kalimat yang sedikit rumit menjadi
kalimat yang lebih rumit. Mungkin itulah sebabnya sebagian caleg tidak
dapat memahami aturan KPU dengan baik
Nyatanya, sangat banyak pepohonan menjadi “korban” senyuman sejumlah caleg, hehehehehehe….
Salam Kompasiana
abanggeutanyo
sumber: http://green.kompasiana.com
Tidak Ada yang Salah dengan Menikah Muda [Part 2] Oleh Dewi Kurniawati
10.30
Unknown
Hasil perbincangan saya dengan seorang sahabat—yang
katanya calon psikolog ini— akhirnya menyimpulkan bahwa memang tidak
ada yang salah menikah di usia yang relatif muda. Walaupun kami sendiri
memang belum menikah, tentu karena memang belum Tuhan pertemukan dengan
jodoh kami masing-masing. Dan sepertinya Tuhan memang paham bahwa kami
memang sedang fokus pada pencapaian kami masing-masing, dan sedang
saling memperbaiki dan memantaskan diri bagi jodoh yang baik. Tuhan
memang selalu tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Maka kami pun sebenarnya sangat menyayangkan
komentar-komentar miring semacam itu. Berbekal cerita dari seorang
dosen, sahabat saya itu pun akhirnya menceritakan bahwa semasa
kuliahnya, sang dosen tersebut pun memiliki teman yang menikah ketika
tengah menempuh kuliahnya. Lalu apa yang terjadi? Komentar-komentar
miring seperti yang telah disebutkan di atas itu, ternyata sama sekali
tidak terbukti. Yang terjadi adalah bahwa suami beliau senantiasa
memotivasi beliau, bahkan termasuk untuk hal-hal yang berurusan dengan
pendidikan yang tengah ditempuhnya. Dan yang paling membuat kami
berdecak kagum adalah perlakuan istimewa yang diberikan sang suami
ketika beliau sedang ujian, yaitu sang suami mengharamkan beliau untuk
mengerjakan semua pekerjaan rumah (semacam membersihkan rumah, mengepel,
mencuci piring, dsb). Setiap ujian semester berlangsung, sang suami
selalu memperlakukan beliau bak seorang putri. Beliau hanya
diperkenankan untuk fokus dengan ujian semesternya saja. Luar biasa
bukan?
Fakta lainnya adalah tentunya memilih menikah di
usia ini jauh lebih baik, ketimbang terus-menerus mempertahankan
hubungan pacaran yang belum jelas juntrungannya. Yang secara agama pun
‘sebenarnya’ dilarang, karena mendekatkan diri pada kemaksiatan
tentunya. Apalagi jika menyaksikan perkembangan pergaulan jaman
sekarang. Tak jarang membuat kita secara refleks mengucap istighfar.
Gaya berpacaran anak jaman sekarang yang semakin
kelewat batas inilah yang semestinya dipersoalkan. Apakah menikah di
usia yang relatif muda ini lebih buruk ketimbang mempertahankan
kemaksiatan?. Bukankah mengerikan jika generasi muda yang kelak akan
memimpin bangsa ini, malah berlomba-lomba melakukan kemaksiatan?.
Sedangkan yang memilih menikah muda malah dipandang sebelah mata,
padahal jelas ini yang syah secara agama dan Negara. Memang di jaman
yang serba kekinian ini, agak sulit menemukan kebenaran. Ketika
kesalahan sudah menjadi mayoritas, maka secara tidak langsung kebenaran
akan menjadi kesalahan. Naudzubillah..
Untuk pernyataan yang menyatakan bahwa sebaiknya
kita bekerja dulu agar bisa membahagiakan orang tua, sebelum menikah,
ini agak mengganjal juga. Apakah kebahagiaan orang tua bisa dilihat dari
pekerjaan anaknya saja? Bukankah kebahagiaan yang sesungguhnya—yang
bisa dibawa mati—adalah ketika anak-anaknya menjadi anak yang shaleh dan
shalehah? Lalu bagaimana jika ternyata orang tua justru lebih bahagia
ketika menyaksikan anak-anaknya hidup bahagia dengan menantu dan
cucunya? Bukankah itu yang lebih berarti? Dan bukankah ada jaminan surga
bagi seorang ayah yang berhasil menjaga dan mengantarkan kesucian anak
wanitanya sampai menikah? Subhanallahu…
Jika Anda pernah membaca buku Felix Siauw yang
berjudul ‘Udah Putusin Aja!’, Anda tentu akan lebih menemukan banyak
fakta mengerikan lainnya dari hubungan berpacaran anak jaman sekarang.
Bagaimana disebutkan bahwa sekian persen dari jumlah remaja putri di
Indonesia dinyatakan sudah tidak perawan lagi. Begitu murah kah harga
sebuah keperawanan, hingga tak layak dipertahankan untuk pasangan syah
kita, kelak? (Jika Anda belum membaca buku ini, saya sarankan Anda untuk
membacanya, karena memang banyak ‘moral value’ nya).
Lalu untuk pernyataan terakhir, yang menyatakan
bahwa—di usia 19-20 an ini—sistem reproduksi dan kandungan seorang
wanita masih belum siap ini, amatlah disayangkan oleh sahabat saya itu.
Ia menyatakan bahwa justru di usia ini, kandungan dan sistem reproduksi
seorang wanita sedang baik-baiknya. Bukankah ada batasan bahwa sampai
usia berapa seorang wanita masih bisa melahirkan dengan baik? Bukankah
semakin tua, fisik seseorang sudah tidak terlalu baik, apalagi bagi
seorang wanita untuk melahirkan? Dan bukankah usia produktif seperti
kita inilah yang jauh lebih baik dan lebih terjamin untuk bisa
melahirkan keturunan yang sehat?
Lalu, masihkah ada alasan untuk tidak menghargai
keputusan orang-orang yang memilih menikah di usia relatif muda itu?
Jika tujuannya jelas adalah mengharap Ridha-Nya.
Terakhir, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa “Tidak
ada yang salah dengan menikah muda (jika tujuannya adalah karena-Nya),
yang salah adalah jika pernikahan itu terjadi akibat sebuah ‘accident’
yang kurang diharapkan, tapi tentu lebih salah lagi jika itu akhirnya
tidak dinikahkan—bahkan digugurkan— Naudzubillah…
Tanpa berniat saling menyalahkan, hanya ingin
saling mengingatkan, dan meluruskan pandangan. Agar kita menjadi orang
yang sama-sama lebih bijak dalam memberikan tanggapan pada mereka yang
memilih menikah untuk mengharap Ridha-Nya, walau di usia 19-20 an.
sumber: http://muda.kompasiana.com
Tidak Ada yang Salah dengan Menikah Muda [Part 1] oleh Dewi Kurniawati
10.24
Unknown
Kapan kita mulai sadar jika usia kita semakin
menua? Ya, salah satunya ketika mendapat undangan pernikahan teman
sebaya. Mungkin usia kita memang masih muda, tapi tentunya itu
beriringan dengan semakin menuanya usia kita, yang pada akhirnya membuat
kita berpikir untuk menentukan akan dibawa kemana kehidupan ini. Akan
seperti apa kehidupan kita di masa yang akan datang? Dan langkah apa
yang harus kita lakukan sekarang, agar esok mendapatkan kehidupan yang
didambakan?
Usia 19-20 an memang bukan kategori tua. Tetapi
sekali lagi, itu proses menua. Usia dimana seseorang mulai dianggap
dewasa, mulai ditimpa beragam masalah yang sama sekali tak pernah
terpikirkan sebelumnya. Rangkain peristiwa-peristiwa yang tidak terduga,
yang kadang memancing emosi itu merupakan proses pendewasaan. Dimana
seseorang dituntut untuk pandai bersikap, mengambil keputusan, dan
menentukan langkah untuk kebaikan hidupnya kelak. Pada usia ini,
seseorang memiliki beragam pilihan. Ada yang tengah menempuh pendidikan
di bangku kuliah, ada yang memilih bekerja dulu, atau ada juga yang
memilih menikah—tentu karena sudah ada jodohnya—.
Nah pilihan terakhir itulah yang menarik untuk
dibahas. Pernikahan itu bisa berlangsung setelah lulus SMA, bisa juga
yang setelah lulus SMA memilih bekerja dulu sebentar—baru menikah—, atau
ada juga yang memilih menikah ketika sedang menempuh pendidikan di
bangku kuliah. Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu. Ketika Tuhan
mempertemukan kita dengan jodoh kita di usia yang tergolong masih sangat
muda, tidak ada yang bisa kita lakukan bukan? Selain bersyukur. Itu
juga bisa berarti bahwa Tuhan memberikan kepercayaan lebih kepada kita
di usia yang masih sangat muda untuk berumah tangga, mengabdikan diri
kepada pasangan syah.
Di tengah kesibukan saya menyelesaikan studi strata
satu dan kesibukan berorganisasi, undangan pernikahan dari teman-teman
tak jarang datang kepada saya. Entah itu dari kartu undangan yang sampai
ke rumah, dari sms berantai teman-teman, atau dari group di sosial
media. Undangan itu beragam datangnya, dari teman kecil, teman sd,
sahabat dekat, sampai yang terakhir teman sekelas saya di bangku kuliah.
Tentu tak ada reaksi lain yang bisa saya tunjukkan, kecuali mengucap
syukur karena terharu dan bahagia melihat teman—yang rasanya baru
kemarin saling bermain bersama, menggila bersama, susah senang bersama
itu—akhirnya sudah Tuhan temukan dengan jodohnya.
Di tengah rasa syukur atas pernikahan teman
tersebut, komentar miring kerap saja mampir dari sebagian orang.
Komentar itu bisa berupa reaksi kaget penuh ketidak percayaan, karena
pernikahan yang mereka anggap masih terlalu muda itu.
Pernyataan-pernyataan seperti, “Serius lo? Ya ampun gue nggak percaya
banget dia mau married semuda ini, emang dia udah siap?”, “Beneran dia
lulus SMA mau langsung married? Nggak mau kuliah dulu gitu? Atau paling
nggak, kerja dulu kek? Biar bisa bahagiain orang tua dulu”, “Ya ampun
dia kan masih kuliah, yakin kuliahnya gak keteteran? Kalo pas di tengah
jalan dia hamil kan, malah repot, apa bakal kelar kuliahnya? Belum lagi
tugas-tugas kuliah, terus skripsi juga, apa bisa fokus kuliah sambil
ngurus keluarga?”, sampai yang terakhir saya dengar, “Ya ampun itu
cowoknya gak sabaran banget sih.. paling nggak tunggu sampe lulus kuliah
lah, dasar cowok yah! Lagian kan kalo seumuran kita, kandungan sama
sistem reproduksinya masih belum siap, malah kasian kali”.
Secara pribadi saya kurang setuju dengan
pernyataan-pernyataan di atas, yang ditujukan bagi mereka yang akan
segera menikah. Mungkin masih masuk akal jika itu ditujukan kepada diri
sendiri atau bagi lingkungan yang satu visi—yang ingin fokus kuliah atau
bekerja dulu—, tentu sebagai bentuk proteksi diri agar tidak terlalu
mempermasalahkan persoalan percintaan yang ‘katanya’ rumit itu. Namun
ini pun tidak boleh menyudutkan atau bahkan menjadikan kita antipati
terhadap mereka yang memilih menikah muda. Raut wajah gembiralah, yang
tetap lebih pantas kita perlihatkan ketika teman mengabarkan berita
pernikahannya itu.
sumber:http://muda.kompasiana.com
Selasa, Februari 04, 2014
Belajar, Shalat Tahajud, Sedekah, dan Doa Orang Tua, Rahasia Lulusan Terbaik UN SMA 2012 , UN 2014 Juga Harus Bisa!
11.28
Unknown
Ujian Nasional (UN) SMA tahun 2012
telah usai. Di antara peserta UN SMA 2012 tersebut terdapat dua gadis
berkerudung yang meraih nilai UN SMA tertinggi, yaitu Triawati Octavia
dan Novi Wulandari. Triawati memperoleh nilai 58,6 diikuti secara tipis
oleh Novi yang memperoleh nilai 58,5. Bagaimana mereka bisa memperoleh
nilai setinggi itu?
Syahrul, orang tua Triawati menuturkan bahwa dia dan istrinya, Uhintawati, bersikap tegas. Saat belajar, Tria dilarang menonton TV atau keluar malam. Saking tegasnya, Syahrul melarang putri kesayangannya itu main Facebook. Apalagi, saat pelaksanaan UN, dia dan istrinya benar-benar mengawasi putrinya belajar. Disiplin yang ketat, rupanya, membuahkan hasil.
Selain soal belajar, Syahrul selalu meminta anaknya shalat Dhuha dan shalat malam. Sikap tegas dua orangtuanya itu diakui Tria. “Papah dan Mamah sangat tegas. Tapi, saya mematuhi karena ingin meraih masa depan yang baik. Saya hanya berusaha belajar yang baik dan tak pernah terpikirkan bisa meraih nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia,” tutur Tria yang memiliki obsesi menjadi dokter itu.
Menurut wali kelasnya, Raindra, mengungkapkan bahwa Tria memiliki kelebihan. Terutama dari sisi ketekunan dan kerajinan belajar. Motivasi belajarnya tinggi serta menunjukkan sikap yang sopan dan santun. “Mungkin karena dia merasa enjoy ketika mengerjakan soal unas. Didorong pula dengan rajin beribadah seperti puasa Senin-Kamis dan salat Dhuha,” tuturnya diamini Kepala SMAN 2 Kuningan Drs Bambang Sri Sadono MPd.
Sebagai wali kelas sekaligus guru kimia, Raindra tahu betul keseharian Tria. Setiap dirinya memberikan tugas, gadis kelahiran 28 Oktober 1993 tersebut mengerjakan dengan baik. Raindra pun menyatakan salut atas besarnya motivasi dua orang tua Tria. “Sewaktu UN, saya sempat menanyakan kepada Tria bagaimana dorongan orang tuanya. Dia menjawab, mamahnya rajin puasa selama UN dilangsungkan,” ujarnya.
Lalu bagaimana dengan Novi? Novi adalah seorang anak yang hidup dalam
kesederhanaan karena orang tuanya hanya pekerja di toko sepatu. Kini
Novi menjadi rebutan berbagai perguruan tinggi negeri terbaik di
Indonesia untuk memberikan beasiswa untuknya. Saat diwawancari di
televisi, ternyata ada rahasia dahsyat pada dirinya sehingga mampu
menjadi lulusan terbaik dalam UN tahun ini. Novi adalah seorang anak
yang tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Novi selalu bersedekah
dari uang saku yang diterimanya sehingga ia rela berjalan kaki menuju
sekolahnya. Selain itu Novi ringan tangan membantu ibunya mengerjakan
pekerjaan sehari-hari.
Lalu kapan Novi belajar? Ternyata dia belajar setiap malam setelah shalat tahajudnya sambil menunggu waktu subuh. Bapak dan ibunya pun melakukan hal yang sama, menyertai anaknya dalam menuntut ilmu dengan doa yang tidak putus dipanjatkan. Hingga akhirnya kini Novi ditawari banyak beasiswa. Novi pun berpesan kepada teman-temannya agar jangan pernah lelah untuk berdoa dan yakin bahwa Allah SWT akan mendengar doa kita.
Sungguh sebuah pelajaran dari dua anak terbaik bangsa ini. (Bisnis.com / Harian Sumut / paljariatiyusral.net / hdn)
Redaktur: Hendra
Sumber: dakwatuna.com
Read more »
Syahrul, orang tua Triawati menuturkan bahwa dia dan istrinya, Uhintawati, bersikap tegas. Saat belajar, Tria dilarang menonton TV atau keluar malam. Saking tegasnya, Syahrul melarang putri kesayangannya itu main Facebook. Apalagi, saat pelaksanaan UN, dia dan istrinya benar-benar mengawasi putrinya belajar. Disiplin yang ketat, rupanya, membuahkan hasil.
Selain soal belajar, Syahrul selalu meminta anaknya shalat Dhuha dan shalat malam. Sikap tegas dua orangtuanya itu diakui Tria. “Papah dan Mamah sangat tegas. Tapi, saya mematuhi karena ingin meraih masa depan yang baik. Saya hanya berusaha belajar yang baik dan tak pernah terpikirkan bisa meraih nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia,” tutur Tria yang memiliki obsesi menjadi dokter itu.
Menurut wali kelasnya, Raindra, mengungkapkan bahwa Tria memiliki kelebihan. Terutama dari sisi ketekunan dan kerajinan belajar. Motivasi belajarnya tinggi serta menunjukkan sikap yang sopan dan santun. “Mungkin karena dia merasa enjoy ketika mengerjakan soal unas. Didorong pula dengan rajin beribadah seperti puasa Senin-Kamis dan salat Dhuha,” tuturnya diamini Kepala SMAN 2 Kuningan Drs Bambang Sri Sadono MPd.
Sebagai wali kelas sekaligus guru kimia, Raindra tahu betul keseharian Tria. Setiap dirinya memberikan tugas, gadis kelahiran 28 Oktober 1993 tersebut mengerjakan dengan baik. Raindra pun menyatakan salut atas besarnya motivasi dua orang tua Tria. “Sewaktu UN, saya sempat menanyakan kepada Tria bagaimana dorongan orang tuanya. Dia menjawab, mamahnya rajin puasa selama UN dilangsungkan,” ujarnya.
Novi
Wulandari (kiri), siswa SMA Negeri 2 Lamongan, peraih nilai tertinggi
tingkat nasional. Dia adalah anak penjaga toko dan ibunya ibu
rumahtangga biasa. (KCM)
Lalu kapan Novi belajar? Ternyata dia belajar setiap malam setelah shalat tahajudnya sambil menunggu waktu subuh. Bapak dan ibunya pun melakukan hal yang sama, menyertai anaknya dalam menuntut ilmu dengan doa yang tidak putus dipanjatkan. Hingga akhirnya kini Novi ditawari banyak beasiswa. Novi pun berpesan kepada teman-temannya agar jangan pernah lelah untuk berdoa dan yakin bahwa Allah SWT akan mendengar doa kita.
Sungguh sebuah pelajaran dari dua anak terbaik bangsa ini. (Bisnis.com / Harian Sumut / paljariatiyusral.net / hdn)
Sumber: dakwatuna.com
Kisah Carissa, Penulis Asal Amerika yang Masuk Islam Karena Jilbab
11.21
Unknown
Banyak wanita Amerika Serikat yang mengenakan jilbab setelah menjadi
mualaf. Namun, tidak demikian dengan Carissa D. Lamkahouan. Ia telah
mengenakan jilbab sebelum masuk Islam. Dan dari pengalamannya yang unik
tentang jilbab itu, ia kemudian bersyahadat.
Seperti dirilis onislam pasa pekan lalu, Carissa menuliskan kisahnya. Selama hampir satu setengah tahun, Carissa mempelajari agama Islam, prinspi-prinsip dan karakteristiknya.
“Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik terutama pada isu-isu perempuan. Dan jilbab sebagai identitas muslimah yang khas, membuat saya sangat tertarik,” tuturnya.
Dan entah mengapa, Carissa menemukan dirinya terpesona dengan wanita yang mengenakan jilbab.
Seiring berjalannya studi Islam-nya, Carissa rajin pergi ke toko buku dan membaca dengan teliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggris. Baik Al Quran, hadits maupun kisah-kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan pada suatu hari, ia menemukan jilbab di barisan abaya. Carissa yang tertarik dengan benda itu kemudian menemukan keberanian untuk mencoba.
“Itu penutup kepala pertama yang saya beli,” kenangnya.
Ketika memakainya untuk pertama kali, Carissa merasakah sesuatu yang aneh.
“Saya melihat sekilas diriku di cermin, terus terang saya terkejut dengan kain hijau di atas kepalaku itu. Saya melihat bayangan saya sebagai orang yang berbeda, asing. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita berjilbab seperti digambarkan oleh media,” tambahnya.
Namun, itu tidak berlangsung lama. Carissa dengan cepat kembali ke alam rasionalnya. “Bahwa saya membelinya untuk dipakai jika saya perlu untuk pergi ke masjid,” katanya dalam hati, mengingat tujuannya untuk mempelajari Islam lebih dalam dengan mengunjungi masjid-masjid.
“Sekarang saya menyadari bahwa membeli jilbab saat itu adalah langkah awal saya mendapatkan hidayah,” tuturnya.
Beberapa bulan berlalu. Namun Carissa belum mendapatkan kesempatan untuk memakai jilbab itu seperti rencananya. Di samping, ia tidak terlalu suka dengan warna dan model jilbab tersebut. Hingga kemudian, ia pun membeli jilbab yang ia sukai saat kembali ke toko buku.
Carissa kemudian mulai memakai jilbabnya dalam berbagai kesempatan. Saat berkunjung ke toko makanan halal, saat ke toko buku, dan beberapa kesempatan yang lain, ia menutup rambutnya dengan jilbab. Hingga suatu malam, ia pergi bersama sang suami dengan memakai jilbab. Di situlah perubahan besar terjadi.
“Aku merasa aman dan nyaman. Aku tak lagi mendapati pandangan laki-laki menganggu yang tertuju padaku.”
Carissa pun makin terbiasa memakai jilbab. Dan seiring semakin dalam ia mempelajari Islam, akhirnya ia juga memutuskan untuk bersyahadat.
Kini Carissa merasakan martabat dan kemuliannya sebagai wanita dengan jilbab sebagai mahkotanya. Ia tak lagi takut digoda lelaki, dan lebih dari itu, ia menyadari bahwa memakai jilbab adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. [IK/bersamadakwah]
Read more »
Seperti dirilis onislam pasa pekan lalu, Carissa menuliskan kisahnya. Selama hampir satu setengah tahun, Carissa mempelajari agama Islam, prinspi-prinsip dan karakteristiknya.
“Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik terutama pada isu-isu perempuan. Dan jilbab sebagai identitas muslimah yang khas, membuat saya sangat tertarik,” tuturnya.
Dan entah mengapa, Carissa menemukan dirinya terpesona dengan wanita yang mengenakan jilbab.
Seiring berjalannya studi Islam-nya, Carissa rajin pergi ke toko buku dan membaca dengan teliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggris. Baik Al Quran, hadits maupun kisah-kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan pada suatu hari, ia menemukan jilbab di barisan abaya. Carissa yang tertarik dengan benda itu kemudian menemukan keberanian untuk mencoba.
“Itu penutup kepala pertama yang saya beli,” kenangnya.
Ketika memakainya untuk pertama kali, Carissa merasakah sesuatu yang aneh.
“Saya melihat sekilas diriku di cermin, terus terang saya terkejut dengan kain hijau di atas kepalaku itu. Saya melihat bayangan saya sebagai orang yang berbeda, asing. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita berjilbab seperti digambarkan oleh media,” tambahnya.
Namun, itu tidak berlangsung lama. Carissa dengan cepat kembali ke alam rasionalnya. “Bahwa saya membelinya untuk dipakai jika saya perlu untuk pergi ke masjid,” katanya dalam hati, mengingat tujuannya untuk mempelajari Islam lebih dalam dengan mengunjungi masjid-masjid.
“Sekarang saya menyadari bahwa membeli jilbab saat itu adalah langkah awal saya mendapatkan hidayah,” tuturnya.
Beberapa bulan berlalu. Namun Carissa belum mendapatkan kesempatan untuk memakai jilbab itu seperti rencananya. Di samping, ia tidak terlalu suka dengan warna dan model jilbab tersebut. Hingga kemudian, ia pun membeli jilbab yang ia sukai saat kembali ke toko buku.
Carissa kemudian mulai memakai jilbabnya dalam berbagai kesempatan. Saat berkunjung ke toko makanan halal, saat ke toko buku, dan beberapa kesempatan yang lain, ia menutup rambutnya dengan jilbab. Hingga suatu malam, ia pergi bersama sang suami dengan memakai jilbab. Di situlah perubahan besar terjadi.
“Aku merasa aman dan nyaman. Aku tak lagi mendapati pandangan laki-laki menganggu yang tertuju padaku.”
Carissa pun makin terbiasa memakai jilbab. Dan seiring semakin dalam ia mempelajari Islam, akhirnya ia juga memutuskan untuk bersyahadat.
Kini Carissa merasakan martabat dan kemuliannya sebagai wanita dengan jilbab sebagai mahkotanya. Ia tak lagi takut digoda lelaki, dan lebih dari itu, ia menyadari bahwa memakai jilbab adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. [IK/bersamadakwah]
Jam Session Nongkrong Bareng PKS
11.18
Unknown
Sore hari adalah waktu yang pas untuk menikmati pemandangan kota
Pangkalpinang. Dan seperti biasanya alun-alun Taman merdeka selalu
menjadi pilihan banyak keluarga untuk membawa anggota keluarganya
menikmati hiburan serta suasana kota yang khas, cukup meriah namun tetap
kondusif. Dan ada sesuatu yang beda pada sore itu.
Minggu sore kemarin (2/2) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Babel melalui bidang Generasi Muda dan Profesi (GMPro) melakukan jam session bersama komunitas band Pangkalpinang di alun alun Taman merdeka Kota Pangkalpinang.
Acara yang dikemas dalam tajuk “Nongkrong Bareng PKS” ini menghadirkan grup band The Rainbow yang merupakan band anak muda kota Pangkalpinang yang terbilang cukup eksis di Babel. Tak lupa juga PKS memberikan layan kesehatan yang melibatkan tim Medis PKS yang terdiri dari perawat, dokter dan tenaga medis lainnya.
Dalam siaran persnya ketua pelaksana acara Nongkrong Bareng PKS, Rio Setiady menyampaikan acara ini merupakan sesi bersama dengan rekan-rekan dari grup band The Rainbow, khusus datang untuk menghibur masyarakat kota Pangkalpinang.
Dan secara tak terduga juga hadir beberapa orang dari komunitas regee, serta seniman lintas aliran musik band lainnya. Tak lupa sang vokalis band, Choki Suhendra di sela penampilannya dengan penuh semangat mengajak komunitas muda pangkalpinang yang memiliki talenta untuk turut serta dalam kegiatan nongkrong bareng PKS, acara yang memang dipersembahkan untuk mereka yang muda dan penuh kreatifitas.
sumber: pkspiyungan.org
Read more »
Minggu sore kemarin (2/2) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Babel melalui bidang Generasi Muda dan Profesi (GMPro) melakukan jam session bersama komunitas band Pangkalpinang di alun alun Taman merdeka Kota Pangkalpinang.
Acara yang dikemas dalam tajuk “Nongkrong Bareng PKS” ini menghadirkan grup band The Rainbow yang merupakan band anak muda kota Pangkalpinang yang terbilang cukup eksis di Babel. Tak lupa juga PKS memberikan layan kesehatan yang melibatkan tim Medis PKS yang terdiri dari perawat, dokter dan tenaga medis lainnya.
Dalam siaran persnya ketua pelaksana acara Nongkrong Bareng PKS, Rio Setiady menyampaikan acara ini merupakan sesi bersama dengan rekan-rekan dari grup band The Rainbow, khusus datang untuk menghibur masyarakat kota Pangkalpinang.
Dan secara tak terduga juga hadir beberapa orang dari komunitas regee, serta seniman lintas aliran musik band lainnya. Tak lupa sang vokalis band, Choki Suhendra di sela penampilannya dengan penuh semangat mengajak komunitas muda pangkalpinang yang memiliki talenta untuk turut serta dalam kegiatan nongkrong bareng PKS, acara yang memang dipersembahkan untuk mereka yang muda dan penuh kreatifitas.
sumber: pkspiyungan.org




+bersama+The+Rainbow+pada+nongkrong+Bareng+PKS.jpg)

