Rabu, Februari 05, 2014

Cinta Tidak Harus dengan Kata Oleh Cahyadi Takariawan

Tentu kita semua sudah sering mendengar, membaca dan menikmatu puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono. Mungkin karena Sapardi Djoko Damono laki-laki, maka lahirlah puisi cinta yang indah ini. Isinya, sangat laki-laki. Jika seorang perempuan membuat puisi cinta, tidak akan seperti ini isinya. Saya menghafal puisi ini dengan baik.
Mari kita cermati dengan seksama, karya sang pujangga ini.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang membuatanya terbakar
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang membuatnya tiada
Indah sekali kalimat puisinya, dan saya tidak pernah bosan membaca dan mengucapkannya.
Puisi Cinta Suami
Puisi ini sangat laki-laki. Secara umum, laki-laki kurang bisa mengekspresikan bunga-bunga cinta di hatinya. Ia tak pandai mengungkapkan dengan mesra kepada istrinya. Bahkan banyak lelaki yang tidak mampu mengungkapkan kata “rindu, kangen, sayang, cinta”, dan lain sebagainya kepada istri yang sangat dicinta. Ada beban yang sangat berat untuk mengekspresikan cinta dengan kata-kata.
Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”. Laki-laki itu sering merasa “tidak sempat”. Padahal perempuan sangat menunggu kata dan isyarat tadi. Sayang, lelaki “tak sempat”, maka tak ada kata dan isyarat. Ia hanya punya cinta sederhana.
Walau sederhana, namun ia adalah cinta. Semestinyalah istri menerima dengan bahagia, bahkan merayakan bersama dengan penuh kesyukuran jiwa.
Di sisi lain, secara umum perempuan sangat ingin mendapatkan kata-kata mesra dari suaminya. Ia tahu suami mencintainya, namun ia ingin kepastian dari mulut suami sendiri. Bukan hanya membaca isyarat, apalagi jika isyarat itu tidak sempat disampaikan. Ia sangat senang mendapat rayuan, pujian dan kata-kata mesra dari suami. Sayang, suami “tidak sempat” melakukannya. Padahal istri sangat mengharapkannya.
Puisi Rahmah, Bukan Mawaddah
Sering kita mendengar istilah sakinah, mawaddah dan rahmah. Kata sakinah merujuk kepada kondisi keluarga yang tenang, tenteram, nyaman, dan damai. Di atas kondisi sakinah itu, muncullah dua perasaan lainnya, yaitu mawaddah dan rahmah. Kata mawaddah menunjukkan perasaan cinta, kasih dan sayang yang menggelora, menggebu-gebu, dan bercorak sangat fisik. Biasanya terjadi pada anak muda atau pengantin baru.
Sedangkan kata rahmah menunjukkan perasaan cinta, kasih dan sayang yang “sederhana”, tidak menggebu-gebu dan tidak lagi bercorak fisik. Biasanya terjadi pada pasangan yang sudah dewasa atau bahkan tua. Jika pasangan sudah melewati duapuluh tahun usia pernikahan, maka akan dominan corak rahmah daripada mawaddah. Cinta yang sudah tidak berada dalam batas-batas sebab yang bercorak fisik.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, jelas menunjukkan suasana rahmah tersebut. Tidak bercorak fisik dan menggebu, namun sudah menunjukkan kedewasaan cinta dan hubungan. Untuk perbandingan, cinta mawaddah yang bercorak sangat fisik dan menggebu itu seperti ungkapan berikut:
Aku ingin menggenggam erat tanganmu.
Aku ingin memeluk erat tubuhmu.
Aku ingin mencumbumu.
Aku ingin mencium bibirmu.
Aku ingin melumat, mengkulum, meremas….
Kalimat di atas menunjukkan adanya suasana cinta yang menggelora. Biasa terjadi pada anak muda, atau pada pasangan pengantin baru.
Jaman dulu (jadul) ada lagu sangat kondang dari Vina Panduwinata, judulnya saja “Cium Pipiku”. Melihat judul dan isi syairnya, memang ini anak muda pacaran. Orang sedang pacaran, suasananya sama dengan pengantin baru. Bercorak sangat fisik. Berikut cuplikannya :
“Pegang tanganku, pegang pegang tanganku / Rayulah daku, rayu rayulah daku / Bila kau sayang padaku / Katakan sayang…
Peluk diriku, peluk peluk diriku / Cium pipiku, cium cium pipiku / Bila kau cinta padaku / Katakan cinta….”
Saya cuplikkan lagu jadul ini, karena saya tidak ngerti lagu-lagu yang sekarang…:) Mencuplik lagu, tentu sesuai zamannya. Lagu Vina tersebut menggambarkan sebuah asmara yang menggelora dari sepasang kekasih, sebagaimana pada pengantin baru pada umumnya.
Nah, semakin lama usia pernikahan, akan mereda dengan sendirinya corak fisik tersebut. Hubungan semakin dewasa, usia semakin menua, maka corak rahmah menjadi ciri dari kehidupan keluarga yang sudah tidak lagi bisa dikatakan muda. “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, adalah keinginan yang sederhana. Lahir dari hubungan yang sudah dewasa.
Menikmati puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono di atas, mengingatkan suami dan istri bahwa ungkapan cinta tidak selalu harus menggebu-gebu. Ungkapan cinta bahkan tidak harus dengan kata-kata, bahkan isyarat. Cinta bisa dirasakan, walau “tidak sempat” mengucapkan kata-kata dan menyampaikan isyarat.
Selamat menikmati cinta.

sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Read more »

Senyuman Caleg dan Jeritan Berjuta Pohon Oleh Abanggeutanyo

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menerbitkan peraturan Nomor 21 tahun 2013 tentang pedoman pelaksanaan kampanye pemilihan umum anggota DPR/ DPRD dan DPD RI. Dengan demikian, masa kampanye pemilu Calon Legislatif (caleg) resmi berlaku mulai 11 Januari 2014 hingga 5 April 2014.
Selain itu dijuga telah ditetapkan lokasi dan tempat pemasangan iklan kampanye selayaknya pada ruang terbuka, pada gedung dan melalui iklan media cetak dan elektronik. Tidak dilakukan pada gedung pemerintah, sekolah, jalan protokol dan fasilitas umum.
Kini, hasrat membara para caleg seolah tak dapat dibendung lagi. Sepertinya para caleg tidak sanggup bersabar lebih lama lagi. Para caleg ramai-ramai -tanpa komando- masuk dalam kancah “Musim Kampanye” yang resmi berlaku sejak 5 Januari 2014 lalu.
Apa daya, entah terlalu bersemangat atau karena ikut-ikutan, sejumlah caleg hampir senada dan seirama menempel atribut kampanye mereka pada sejumlah pohon yang menghiasi jalan umum. Iklan kampanye sosok caleg ukuran raksasa sampai ukuran kertas ketikan  menghiasi sejumlah pohon di sepanjang jalan di mana-mana dari desa sampai kota.
Iklan kampanye sosok caleg yang menempel pada pepohonan sepanjang jalan itu berisi promosi caleg menawarkan program dan nilai jual kepada calon pemilih atau kepada warga yang melihatnya.
Ironis dan menyedihkan sekali. Pada sebatang pohon “dihiasi” oleh sejumlah iklan oleh 4 caleg bahkan lebih. Para caleg saling bersaing dan mengalahkan calonnya baik dalam daerah pilihan (dapil) yang sama bahkan dengan caleg dapil lainnya.
Pepohonan pun terlihat makin tak karuan bentuknya. Di tengah batang pohon dengan radius ketinggian 2 meter menempel sejumlah lembaran atribut caleg. Sementara di daun-daunan di atasnya seolah tak mampu lagi mengeluarkan daun hijaunya akibat dipaku disana-sini disekujur lingkaran batangnya.
Para caleg yang menghiasi batang pohon semua tersenyum, optimis dan percaya diri tak terkira, sementara lolongan pohon-pohon yang telah “mereka” tempeli itu terasa tak penting bagi caelg. Pepohonan seolah bukanlah sesuatu yang perlu dijaga kehidupan dan kelestariannya.
Pepohonan seperti terdiam seribu bahasa tak kuasa menahan sakitnya dipaku di sana sini. Jeritannya melolong “kesakitan” siang dan malam berbulan-bulan sampai masa kampanye  caleg itu berakhir hingga 5 April mendatang.
Di sisin lain, banyak terlihat mobil caleg berseliweran di mana-mana dengan atribut kampanye caleg. Banyak juga terlihat caleg dalam ukuran baliho dan backdrop ukuran raksasa menghiasi seantero kota dan komplek perumahan sekitar kita.
Lalu mengapa ditemukan caleg menempel pepohonan sebagai sasaran pemasangan atribut kampanye, padahal caleg pastilah orang yang berkecukupan dalam hampir segala bidang termasuk bidang finasial.
Semoga para caleg yang sukses atau gagal itu nantinya berkesempatan menata dan menanam kembali berjuta-juta pohon telah mereka paku di sana sini yang membuat sejumlah pepohonan tak berdaya itu pasrah menjadi sasaran senyuman mereka.
1390855355724714021
Sumber : http://posmetrobatam.com/2013/09/satpol-pp-segera-tertibkan-atribut-parpol/#axzz2rc64BYzc
Tidak adakah tempat lainnya yang lebih tepat memasang atribut kampanye promosi caleg? Padahal dalam ketentuan KPU telah membatasi tempat yang layak untuk dijadikan sasaran, meski KPU tidak melarang pepohonan menjadi sasaran pemasangan iklan kampanye.
Salah satu komisioner KPU, akhirnya menyampaikan pendapatnya tentang fenomena anti penghijauan yang dilakukan oleh para caleg yang menjadikan pepohonan sebagai sasaran kampanye, tetapi himbauan tersebut hanyalah pernyataan pribadi saja, bukan ketetapan KPU.  “Apapun alasannya, pohon tidak boleh disentuh untuk keperluan kampanye,” tegas Hadar Nafis Gumay, beberapa waktu lalu.
Dari sisi efektifitas memaku iklan di pohon juga diragukan ketepatannya. Dengan ukuran iklan kampanye yang relatif kecil rasanya tak ada waktu orang yang melintas di sekitar pohon untuk melirik pada iklan kampnye itu karena memerlukan waktu untuk berhenti sejenak melihat dan mengenal detail caleg dan sejumlah pesan pada iklan caleg tersebut.
Semoga pada Pemilu Caleg mendatang, KPU memberi batasan lebih jelas dalam larangannya, tidak sekadar revisi merevisi peraturan saja, dari kalimat-kalimat yang sedikit rumit menjadi kalimat yang lebih rumit. Mungkin itulah sebabnya sebagian caleg tidak dapat memahami aturan KPU dengan baik
Nyatanya, sangat banyak pepohonan menjadi “korban” senyuman sejumlah caleg, hehehehehehe….

Salam Kompasiana
abanggeutanyo

sumber: http://green.kompasiana.com
Read more »

Tidak Ada yang Salah dengan Menikah Muda [Part 2] Oleh Dewi Kurniawati

Hasil perbincangan saya dengan seorang sahabat—yang katanya calon psikolog ini— akhirnya menyimpulkan bahwa memang tidak ada yang salah menikah di usia yang relatif muda. Walaupun kami sendiri memang belum menikah, tentu karena memang belum Tuhan pertemukan dengan jodoh kami masing-masing. Dan sepertinya Tuhan memang paham bahwa kami memang sedang fokus pada pencapaian kami masing-masing, dan sedang saling memperbaiki dan memantaskan diri bagi jodoh yang baik. Tuhan memang selalu tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Maka kami pun sebenarnya sangat menyayangkan komentar-komentar miring semacam itu. Berbekal cerita dari seorang dosen, sahabat saya itu pun akhirnya menceritakan bahwa semasa kuliahnya, sang dosen tersebut pun memiliki teman yang menikah ketika tengah menempuh kuliahnya. Lalu apa yang terjadi? Komentar-komentar miring seperti yang telah disebutkan di atas itu, ternyata sama sekali tidak terbukti. Yang terjadi adalah bahwa suami beliau senantiasa memotivasi beliau, bahkan termasuk untuk hal-hal yang berurusan dengan pendidikan yang tengah ditempuhnya. Dan yang paling membuat kami berdecak kagum adalah perlakuan istimewa yang diberikan sang suami ketika beliau sedang ujian, yaitu sang suami mengharamkan beliau untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah (semacam membersihkan rumah, mengepel, mencuci piring, dsb). Setiap ujian semester berlangsung, sang suami selalu memperlakukan beliau bak seorang putri. Beliau hanya diperkenankan untuk fokus dengan ujian semesternya saja. Luar biasa bukan?
Fakta lainnya adalah tentunya memilih menikah di usia ini jauh lebih baik, ketimbang terus-menerus mempertahankan hubungan pacaran yang belum jelas juntrungannya. Yang secara agama pun ‘sebenarnya’ dilarang, karena mendekatkan diri pada kemaksiatan tentunya. Apalagi jika menyaksikan perkembangan pergaulan jaman sekarang. Tak jarang membuat kita secara refleks mengucap istighfar.
Gaya berpacaran anak jaman sekarang yang semakin kelewat batas inilah yang semestinya dipersoalkan. Apakah menikah di usia yang relatif  muda ini  lebih buruk ketimbang mempertahankan kemaksiatan?. Bukankah mengerikan jika generasi muda yang kelak akan memimpin bangsa ini, malah berlomba-lomba melakukan kemaksiatan?. Sedangkan yang memilih menikah muda malah dipandang sebelah mata, padahal jelas ini yang syah secara agama dan Negara. Memang di jaman yang serba kekinian ini, agak sulit menemukan kebenaran. Ketika kesalahan sudah menjadi mayoritas, maka secara tidak langsung kebenaran akan menjadi kesalahan. Naudzubillah..
Untuk pernyataan yang menyatakan bahwa sebaiknya kita bekerja dulu agar bisa membahagiakan orang tua, sebelum menikah, ini agak mengganjal juga. Apakah kebahagiaan orang tua bisa dilihat dari pekerjaan anaknya saja? Bukankah kebahagiaan yang sesungguhnya—yang bisa dibawa mati—adalah ketika anak-anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalehah? Lalu bagaimana jika ternyata orang tua justru lebih bahagia ketika menyaksikan  anak-anaknya hidup bahagia dengan menantu dan cucunya? Bukankah itu yang lebih berarti? Dan bukankah ada jaminan surga bagi seorang ayah yang berhasil menjaga dan mengantarkan kesucian anak wanitanya sampai menikah?  Subhanallahu…
Jika Anda pernah membaca buku Felix Siauw  yang berjudul ‘Udah Putusin Aja!’, Anda tentu akan lebih menemukan banyak fakta mengerikan lainnya dari hubungan berpacaran anak jaman sekarang. Bagaimana disebutkan bahwa sekian persen dari jumlah remaja putri di Indonesia dinyatakan sudah tidak perawan lagi. Begitu murah kah harga sebuah keperawanan, hingga tak layak dipertahankan untuk pasangan syah kita, kelak? (Jika Anda belum membaca buku ini, saya sarankan Anda untuk membacanya, karena memang banyak ‘moral value’ nya).
Lalu untuk pernyataan terakhir, yang menyatakan bahwa—di usia 19-20 an ini—sistem reproduksi dan kandungan seorang wanita masih belum siap ini, amatlah disayangkan oleh sahabat saya itu. Ia menyatakan bahwa justru di usia ini, kandungan dan sistem reproduksi seorang wanita sedang baik-baiknya. Bukankah ada batasan bahwa sampai usia berapa seorang wanita masih bisa melahirkan dengan baik? Bukankah semakin tua, fisik seseorang sudah tidak terlalu baik, apalagi bagi seorang wanita untuk melahirkan? Dan bukankah usia produktif seperti kita inilah yang jauh lebih baik dan lebih terjamin untuk bisa melahirkan keturunan yang sehat?
Lalu, masihkah ada alasan untuk tidak menghargai keputusan orang-orang yang memilih menikah di usia relatif muda itu? Jika tujuannya jelas adalah mengharap Ridha-Nya.
Terakhir, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa “Tidak ada yang salah dengan menikah muda (jika tujuannya adalah karena-Nya), yang salah adalah jika pernikahan itu terjadi akibat sebuah ‘accident’ yang kurang diharapkan, tapi tentu lebih salah lagi jika itu akhirnya tidak dinikahkan—bahkan digugurkan— Naudzubillah…
Tanpa berniat saling menyalahkan, hanya ingin saling mengingatkan, dan meluruskan pandangan. Agar kita menjadi orang yang sama-sama lebih bijak dalam memberikan tanggapan pada mereka yang memilih menikah untuk mengharap Ridha-Nya, walau di usia 19-20 an.

sumber: http://muda.kompasiana.com
Read more »

Tidak Ada yang Salah dengan Menikah Muda [Part 1] oleh Dewi Kurniawati

Kapan kita mulai sadar jika usia kita semakin menua? Ya, salah satunya ketika mendapat undangan pernikahan teman sebaya. Mungkin usia kita memang masih muda, tapi tentunya itu beriringan dengan semakin menuanya usia kita, yang pada akhirnya membuat kita berpikir untuk menentukan akan dibawa kemana kehidupan ini. Akan seperti apa kehidupan kita di masa yang akan datang? Dan langkah apa yang harus kita lakukan sekarang, agar esok mendapatkan kehidupan yang didambakan?
Usia 19-20 an memang bukan kategori tua. Tetapi sekali lagi, itu proses menua. Usia dimana seseorang mulai dianggap dewasa, mulai ditimpa beragam masalah yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya. Rangkain peristiwa-peristiwa yang tidak terduga, yang kadang memancing emosi itu merupakan proses pendewasaan. Dimana seseorang dituntut untuk pandai bersikap, mengambil keputusan, dan menentukan langkah untuk kebaikan hidupnya kelak. Pada usia ini, seseorang memiliki beragam pilihan. Ada yang tengah menempuh pendidikan di bangku kuliah, ada yang memilih bekerja dulu, atau ada juga yang memilih menikah—tentu karena sudah ada jodohnya—.
Nah pilihan terakhir itulah yang menarik untuk dibahas. Pernikahan itu bisa berlangsung setelah lulus SMA, bisa juga yang setelah lulus SMA memilih bekerja dulu sebentar—baru menikah—, atau ada juga yang memilih menikah ketika sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah. Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu. Ketika Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh kita di usia yang tergolong masih sangat muda, tidak ada yang bisa kita lakukan bukan? Selain bersyukur. Itu juga bisa berarti bahwa Tuhan memberikan kepercayaan lebih kepada kita di usia yang masih sangat muda untuk berumah tangga, mengabdikan diri kepada pasangan syah.
Di tengah kesibukan saya menyelesaikan studi strata satu dan kesibukan berorganisasi, undangan pernikahan dari teman-teman tak jarang datang kepada saya. Entah itu dari kartu undangan yang sampai ke rumah, dari sms berantai teman-teman, atau dari group di sosial media. Undangan itu beragam datangnya, dari teman kecil, teman sd, sahabat dekat, sampai yang terakhir teman sekelas saya di bangku kuliah. Tentu tak ada reaksi lain yang bisa saya tunjukkan, kecuali mengucap syukur karena terharu dan bahagia melihat teman—yang rasanya baru kemarin saling bermain bersama, menggila bersama, susah senang bersama itu—akhirnya sudah Tuhan temukan dengan jodohnya.
Di tengah rasa syukur atas pernikahan teman tersebut, komentar miring kerap saja mampir dari sebagian orang. Komentar itu bisa berupa reaksi kaget penuh ketidak percayaan, karena pernikahan yang mereka anggap masih terlalu muda itu. Pernyataan-pernyataan seperti, “Serius lo? Ya ampun gue nggak percaya banget dia mau married semuda ini, emang dia udah siap?”, “Beneran dia lulus SMA mau langsung married? Nggak mau kuliah dulu gitu? Atau paling nggak, kerja dulu kek? Biar bisa bahagiain orang tua dulu”, “Ya ampun dia kan masih kuliah, yakin kuliahnya gak keteteran? Kalo pas di tengah jalan dia hamil kan, malah repot, apa bakal kelar kuliahnya? Belum lagi tugas-tugas kuliah, terus skripsi juga, apa bisa fokus kuliah sambil ngurus keluarga?”, sampai yang terakhir saya dengar, “Ya ampun itu cowoknya gak sabaran banget sih.. paling nggak tunggu sampe lulus kuliah lah, dasar cowok yah! Lagian kan kalo seumuran kita, kandungan sama sistem reproduksinya masih belum siap, malah kasian kali”.
Secara pribadi saya kurang setuju dengan pernyataan-pernyataan di atas, yang ditujukan bagi mereka yang akan segera menikah. Mungkin masih masuk akal jika itu ditujukan kepada diri sendiri atau bagi lingkungan yang satu visi—yang ingin fokus kuliah atau bekerja dulu—, tentu sebagai bentuk proteksi diri agar tidak terlalu mempermasalahkan persoalan percintaan yang ‘katanya’ rumit itu. Namun ini pun tidak boleh menyudutkan atau bahkan menjadikan kita antipati terhadap mereka yang memilih menikah muda. Raut wajah gembiralah, yang tetap lebih pantas kita perlihatkan ketika teman mengabarkan berita pernikahannya itu.

sumber:http://muda.kompasiana.com
Read more »

Selasa, Februari 04, 2014

Belajar, Shalat Tahajud, Sedekah, dan Doa Orang Tua, Rahasia Lulusan Terbaik UN SMA 2012 , UN 2014 Juga Harus Bisa!

 Ujian Nasional (UN) SMA tahun 2012 telah usai. Di antara peserta UN SMA 2012 tersebut terdapat dua gadis berkerudung yang meraih nilai UN SMA tertinggi, yaitu Triawati Octavia dan Novi Wulandari. Triawati memperoleh nilai 58,6 diikuti secara tipis oleh Novi yang memperoleh nilai 58,5. Bagaimana mereka bisa memperoleh nilai setinggi itu?
Syahrul, orang tua Triawati menuturkan bahwa dia dan istrinya, Uhintawati, bersikap tegas. Saat belajar, Tria dilarang menonton TV atau keluar malam. Saking tegasnya, Syahrul melarang putri kesayangannya itu main Facebook. Apalagi, saat pelaksanaan UN, dia dan istrinya benar-benar mengawasi putrinya belajar. Disiplin yang ketat, rupanya, membuahkan hasil.
Selain soal belajar, Syahrul selalu meminta anaknya shalat Dhuha dan shalat malam. Sikap tegas dua orangtuanya itu diakui Tria. “Papah dan Mamah sangat tegas. Tapi, saya mematuhi karena ingin meraih masa depan yang baik. Saya hanya berusaha belajar yang baik dan tak pernah terpikirkan bisa meraih nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia,” tutur Tria yang memiliki obsesi menjadi dokter itu.
Menurut wali kelasnya, Raindra, mengungkapkan bahwa Tria memiliki kelebihan. Terutama dari sisi ketekunan dan kerajinan belajar. Motivasi belajarnya tinggi serta menunjukkan sikap yang sopan dan santun. “Mungkin karena dia merasa enjoy ketika mengerjakan soal unas. Didorong pula dengan rajin beribadah seperti puasa Senin-Kamis dan salat Dhuha,” tuturnya diamini Kepala SMAN 2 Kuningan Drs Bambang Sri Sadono MPd.
Sebagai wali kelas sekaligus guru kimia, Raindra tahu betul keseharian Tria. Setiap dirinya memberikan tugas, gadis kelahiran 28 Oktober 1993 tersebut mengerjakan dengan baik. Raindra pun menyatakan salut atas besarnya motivasi dua orang tua Tria. “Sewaktu UN, saya sempat menanyakan kepada Tria bagaimana dorongan orang tuanya. Dia menjawab, mamahnya rajin puasa selama UN dilangsungkan,” ujarnya.
Novi Wulandari (kiri), siswa SMA Negeri 2 Lamongan, peraih nilai tertinggi tingkat nasional. Dia adalah anak penjaga toko dan ibunya ibu rumahtangga biasa. (KCM)
Lalu bagaimana dengan Novi? Novi adalah seorang anak yang hidup dalam kesederhanaan karena orang tuanya hanya pekerja di toko sepatu. Kini Novi menjadi rebutan berbagai perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia untuk memberikan beasiswa untuknya. Saat diwawancari di televisi, ternyata ada rahasia dahsyat pada dirinya sehingga mampu menjadi lulusan terbaik dalam UN tahun ini. Novi adalah seorang anak yang tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Novi selalu bersedekah dari uang saku yang diterimanya sehingga ia rela berjalan kaki menuju sekolahnya. Selain itu Novi ringan tangan membantu ibunya mengerjakan pekerjaan sehari-hari.
Lalu kapan Novi belajar? Ternyata dia belajar setiap malam setelah shalat tahajudnya sambil menunggu waktu subuh. Bapak dan ibunya pun melakukan hal yang sama, menyertai anaknya dalam menuntut ilmu dengan doa yang tidak putus dipanjatkan. Hingga akhirnya kini Novi ditawari banyak beasiswa. Novi pun berpesan kepada teman-temannya agar jangan pernah lelah untuk berdoa dan yakin bahwa Allah SWT akan mendengar doa kita.
Sungguh sebuah pelajaran dari dua anak terbaik bangsa ini. (Bisnis.com / Harian Sumut / paljariatiyusral.net / hdn)
Redaktur: Hendra

Sumber: dakwatuna.com
Read more »

Kisah Carissa, Penulis Asal Amerika yang Masuk Islam Karena Jilbab

Banyak wanita Amerika Serikat yang mengenakan jilbab setelah menjadi mualaf. Namun, tidak demikian dengan Carissa D. Lamkahouan. Ia telah mengenakan jilbab sebelum masuk Islam. Dan dari pengalamannya yang unik tentang jilbab itu, ia kemudian bersyahadat.

Seperti dirilis onislam pasa pekan lalu, Carissa menuliskan kisahnya. Selama hampir satu setengah tahun, Carissa mempelajari agama Islam, prinspi-prinsip dan karakteristiknya.

“Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik terutama pada isu-isu perempuan. Dan jilbab sebagai identitas muslimah yang khas, membuat saya sangat tertarik,” tuturnya.

Dan entah mengapa, Carissa menemukan dirinya terpesona dengan wanita yang mengenakan jilbab.

Seiring berjalannya studi Islam-nya, Carissa rajin pergi ke toko buku dan membaca dengan teliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggris. Baik Al Quran, hadits maupun kisah-kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan pada suatu hari, ia menemukan jilbab di barisan abaya. Carissa yang tertarik dengan benda itu kemudian menemukan keberanian untuk mencoba.

“Itu penutup kepala pertama yang saya beli,” kenangnya.

Ketika memakainya untuk pertama kali, Carissa merasakah sesuatu yang aneh.

“Saya melihat sekilas diriku di cermin, terus terang saya terkejut dengan kain hijau di atas kepalaku itu. Saya melihat bayangan saya sebagai orang yang berbeda, asing. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita berjilbab seperti digambarkan oleh media,” tambahnya.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Carissa dengan cepat kembali ke alam rasionalnya. “Bahwa saya membelinya untuk dipakai jika saya perlu untuk pergi ke masjid,” katanya dalam hati, mengingat tujuannya untuk mempelajari Islam lebih dalam dengan mengunjungi masjid-masjid.

“Sekarang saya menyadari bahwa membeli jilbab saat itu adalah langkah awal saya mendapatkan hidayah,” tuturnya.

Beberapa bulan berlalu. Namun Carissa belum mendapatkan kesempatan untuk memakai jilbab itu seperti rencananya. Di samping, ia tidak terlalu suka dengan warna dan model jilbab tersebut. Hingga kemudian, ia pun membeli jilbab yang ia sukai saat kembali ke toko buku.

Carissa kemudian mulai memakai jilbabnya dalam berbagai kesempatan. Saat berkunjung ke toko makanan halal, saat ke toko buku, dan beberapa kesempatan yang lain, ia menutup rambutnya dengan jilbab. Hingga suatu malam, ia pergi bersama sang suami dengan memakai jilbab. Di situlah perubahan besar terjadi.

“Aku merasa aman dan nyaman. Aku tak lagi mendapati pandangan laki-laki menganggu yang tertuju padaku.”

Carissa pun makin terbiasa memakai jilbab. Dan seiring semakin dalam ia mempelajari Islam, akhirnya ia juga memutuskan untuk bersyahadat.

Kini Carissa merasakan martabat dan kemuliannya sebagai wanita dengan jilbab sebagai mahkotanya. Ia tak lagi takut digoda lelaki, dan lebih dari itu, ia menyadari bahwa memakai jilbab adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. [IK/bersamadakwah]
Read more »

Jam Session Nongkrong Bareng PKS

Sore hari adalah waktu yang pas untuk menikmati pemandangan kota Pangkalpinang. Dan seperti biasanya alun-alun Taman merdeka selalu menjadi pilihan banyak keluarga untuk membawa anggota keluarganya menikmati hiburan serta suasana kota yang khas, cukup meriah namun tetap kondusif. Dan ada sesuatu yang beda pada sore itu.

Minggu sore kemarin (2/2) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Babel melalui bidang Generasi Muda dan Profesi (GMPro) melakukan jam session bersama komunitas band Pangkalpinang di alun alun Taman merdeka Kota Pangkalpinang.

Acara yang dikemas dalam tajuk “Nongkrong Bareng PKS” ini menghadirkan grup band The Rainbow yang merupakan band anak muda kota Pangkalpinang yang terbilang cukup eksis di Babel. Tak lupa juga PKS memberikan layan kesehatan yang melibatkan tim Medis PKS yang terdiri dari perawat, dokter dan tenaga medis lainnya.

Dalam siaran persnya ketua pelaksana acara Nongkrong Bareng PKS, Rio Setiady menyampaikan acara ini merupakan sesi bersama dengan rekan-rekan dari grup band The Rainbow, khusus datang untuk menghibur masyarakat kota Pangkalpinang.

Dan secara tak terduga juga hadir beberapa orang dari komunitas regee, serta seniman lintas aliran musik band lainnya. Tak lupa sang vokalis band, Choki Suhendra di sela penampilannya dengan penuh semangat mengajak komunitas muda pangkalpinang yang memiliki talenta untuk turut serta dalam kegiatan nongkrong bareng PKS, acara yang memang dipersembahkan untuk mereka yang muda dan penuh kreatifitas.

sumber: pkspiyungan.org
Read more »

 

KAJIAN KEISLAMAN DAN KEILMUAN

BERITA DAERAH

POLITIK